BERITA INSIDEN BERDARAH MAHASISWA UMI MAKASAR Analisis Framing pada Koran Kompas dan Media Indonesia tanggal 2 sampai 12 Mei 2004

Setyowati, Etyk (2006) BERITA INSIDEN BERDARAH MAHASISWA UMI MAKASAR Analisis Framing pada Koran Kompas dan Media Indonesia tanggal 2 sampai 12 Mei 2004. Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
BERITA_INSIDEN_BERDARAH_MAHASISWA_UMI_MAKASAR_Analisis_Framing_pada_Koran_Kompas_dan_Media_Indonesia_tanggal_2_sampai_12_Mei_2004.pdf

Download (89kB) | Preview

Abstract

Keywords: Berita, Insiden Berdarah Mahasiswa UMI, Analisis Framing Insiden berdarah mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makasar merupakan insiden yang paling memalukan dijajaran kepolisian. Insiden yang terjadi pada tanggal 1 Mei 2004 ini dinilai diluar batas kewajaran. Dimana polisi yang seharusnya melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat mereka bertindak arogan dan diluar koordinasi terhadap mahasiswa. Polisi menyerbu kedalam kampus UMI, dimana kampus disini merupakan tempat pendidikan yang paling terhormat. Dari latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Koran Kompas dan Media Indonesia dalam membingkai insiden berdarah mahasiswa UMI Makassar pada tanggal 2 sampai 11 Mei 2004. Tujuan dari penelitian ini adalah peneliti ingin memeperoleh gambaran deskripsi dari kedua media tersebut dalam mengkonstruksi realitas sosial mengenai insiden berdarah mahasiswa UMI Makassar. Untuk menganalisa liputan beritanya peneliti menggunakan pendekatan analisis framing yang dipilih adalah model dari Pan dan Kosicki. Pemilihan model analisis framing ini didasarkan pada pertimbangan bahwa metode yang digunakan oleh Pan dan Kosicki ini lebih tepat dan komprehensif dalam menganalisa setiap bagian isi berita, karena memunculkan banyak framing device yang bisa digali dari keempat struktur analisanya, yaitu struktur sintaksis, struktur skrip, tematik dan retosris. Pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara mendokumentasikan berita dari kedua media tersebut, jika sudah terkumpul akan dimasukkan pada lembar coding sit kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis framing dan hasilnya disajikan dalam bentuk deskriptif. Dari analisis diatas terdapat kesimpulan adanya aksi demonstarsi yang menimbulkan korban, oleh Kompas dimaknai sebagai kata ‘insiden’. Kata ‘insiden’ ini menunjuk kepada sesuatu yang tidak disengaja, semacam sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. sedangkan adanya aksi demonstrasi yang menimbulkan korban, oleh Media Indonesia dimaknai sebagai kata ‘bentrok’ yang diikuti kata ketika mahasiswa masih terus melempar batu. disini mahasiswa dipandang sebagai pihak yang aktif, aparat bertindak keras hanya reaksi dari perlakuan mahasiswa. Adanya pengeroyokan keempat siswa polisi, Kompas memaknai pengeroyokan tersebut dilakukan oleh ‘sekelompok orang’ didua tempat terpisah, yakni didepan Kampus UMI dan Universitas 45. Ini berarti Kompas tidak secara langsung memaknai pengeroyokan tersebut dilakukan oleh mahasiswa. Kata pengeroyokan seakan-akan hal ini dilakukan oleh sejumlah orang yang melakukan pengeroyokan tersebut. Sedangkan adanya penganiayaan terhadap keempat siswa polisi tersebut oleh Media Indonesia memaknai ‘penganiayaan’ tersebut dilakukan oleh Mahasiswa. Kata penganiayaan disini seakan-akan mahasiswa melakukan tindakan tersebut dengan penyiksaan yang menimbulkan luka cukup parah. Kata ‘korban’ digunakan Kompas untuk memaknai dampak dari kejadian tersebut. ‘Korban’ disini menggambarkan keadaan yang cukup parah yang diderita oleh mahasiswa. Sedangkan Media Indonesia menggunakan ‘mahasiswa yang luka’ sebagai pemaknaan dampak dari kejadian tersebut. Mahasiswa hanya mengalami luka, luka disini diartikan hanya luka kecil dan bukan serius. Kompas dalam hal ini memberitakan secara detail dan panjang tentang kronologi insiden UMI tersebut. Selain itu penyebab dari kejadian inipun oleh Kompas tidak disebutkan siapa yang memulai kejadian tersebut. Dalam teks disebutkan bahwa ‘tak jelas bagaimana mulanya dan siapa yang memulai’ seakan-akan Kompas tidak ingin langsung menvonis siapa sebenarnya penyebab dari kejadian tersebut. Sedangkan , Media Indonesia tidak menceritakan secara detail yang panjang, namun dalam teks Media Indonesia langsung memvonis bahwa sebenarnya yang merupakan sumber kejadian tersebut adalah mahasiswa. mahasiswa digambarkan sebagai pelaku utama dalam kejadian tersebut. Dari kesimpulan diatas menunjukkan bahwa peristiwa sama, fakta sama tetapi fakta itu menjadi berbeda ketika diberitakan oleh media. Kecenderungan predisposisi wartawan dan system media menentukan apa yang diliput dan apa yang terluput, bagian mana yang ditonjolkan dan bagian mana yang dihilangkan. pada akhirnya frame menentukan bentuk fakta atau penggambaran yang diterima oleh khalayak.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions: Faculty of Social and Political Science > Department of Communication Sience
Depositing User: Zainul Afandi
Date Deposited: 18 Jul 2012 05:15
Last Modified: 18 Jul 2012 05:15
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/12370

Actions (login required)

View Item View Item