TAFSIR MEDIA MASSA TERHADAP DEMOKRASI POLITIK DI INDONESIA Studi atas pemberitaan Kampanye Pemilihan Presiden Langsung Putaran Pertama Pada Kompas, Republika dan Koran Tempo

SURONO, AGUS (2006) TAFSIR MEDIA MASSA TERHADAP DEMOKRASI POLITIK DI INDONESIA Studi atas pemberitaan Kampanye Pemilihan Presiden Langsung Putaran Pertama Pada Kompas, Republika dan Koran Tempo. Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
TAFSIR_MEDIA_MASSATERHADAP_DEMOKRASI_POLITIK_DI_INDONESIAStudi_atas_pemberitaan_Kampanye_Pemilihan_Presiden_Langsung_PutaranPertamaPada_Kompas.pdf

Download (84kB) | Preview

Abstract

Indonesia pasca reformasi adalah Indonesia yang telah mengalami perubahan dalam banyak hal. Perubahan yang paling kentara adalah persoalan kebebasan sebagai anak kandung demokrasi. Bukti empirik dari dedahan kebebasan tersebut adalah kebebasan pers dengan dicabutnya Surat Ijin Usaha Penerbitan (SIUP). Impact langsung dari dicabutnya SIUP adalah membuncahnya media-media baru. Kehadiran media-media baru di satu sisi memberikan makna bahwa demokrasi telah menyeruak samapai kepada kepemilikan media. Realitas ini terang saja menggeser monopoli media. Tapi sayangnya di sisi yang lain melubernya media-media baru tidak paralel dengan proses-proses demokrasi. Pragmatisme-materialisme acapkali menjadi syahwat bagi para penerbit-penerbit baru. Watak yang demikian pada gilirannya membuat banyak media tidak mampu menjaga ritme penerbitannya dan akhirnya kolaps. Dalam aras lain demokrasi politik di Indonesia juga mengalami kegamangan kemana mau melangkah. Cepatnya pergantian tiga presiden dari Habibie-Abdurrahman Wahid-Megawati meneguhkan ada persoalan yang serius dalam organisme bangsa ini. Tetapi walaupun demikian optimisme untuk membenahi celah-celah demokrasi media dan dan demokrasi politik terus dilakukan. Dan hasilnya adalah ditetapkannya pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat. Tentu saja ini sebuah kemajuan yang sangat berarti dalam sejarah berdemokrasi di republik ini. Sehingga menjadi menarik mengamati pertautan demokrasi media dengan demokrasi politik dalam masalah pemilihan presiden secara langsung ini. Apakah kemudian pernyataan pers sebagai pilar keemapat demokrasi menjadi fakta yang yang sebenarnya atau hanya sekedar sloganistis yang meninabobokkan. Dari kegelisahan di atas, maka menarik untuk meneliti relasi demokrasi media dengan demokrasi politik dalam khasanah kampanye pemilihan presiden secara langsung. Bagaimanakah sebenarnya media melakukan penafsiran atas segala “tetek bengek” kampanye pilpres langsung ini. Pakah kemudian media harus memberikan pemihakannya sesuai dengan maistream yang selama ini sudah melekat pada diri media atau media semakin mampu menjaga sikap profesionalitasnya. Kalau kemudian Kompas,Republika dan Koran Tempo menjadi subyek media dari penelitian, karena ketiga media tersebut merupakan media nasional yang memiliki reportase yang meluas dan lebih menarik lagi ketiga media tersebut sepertinya memiliki kecenderungan ideologi yang berbeda. Menjadi lebih menarik lagi karena para capres dan cawapres juga memiliki lekatan ideologiyang berbeda. Metodologi yang dipakai adalah dngan menggunakan maching methode, yakni elaborasi dari kuantitatif-kualitatif. Analisisnya dilakukan secara bertahap. Tahap pertama dengan menggunakan pendekatan content analysis yang berakar pada kuantitatif. Sedangkan tahap kedua adalah dengan cara intepretatif yang berakar pada kualitatif, dimana subyektifitas peneliti lebih banyak digunakan. Dari penelitian yang dilakukan oleh ketiga media (Kompas, Republika dan Koran Tempo didapatkan kesimpulan bahwa ketiga media yang menjadi subyek kajian menunjukkan tafsir terhadap demokrasi politik dalam kampanye pemilihan presiden langsung sebagai berikut: Tafsir literal pertama bahwa tempat-tempat peliputan yang dilakukan oleh ketiga media dalam kampanye tersebut masih fokus di daerah Jawa dan DKI. Kedua Ketiga media tersebut secara proporsional dan hamper berimbang dalam memberitakan tema-tema berita kampanye. Dalam tafsir kritis-intepretatif terutama dalam tema fatwa haram perempuan jadi presiden, Kompas melihat keluarnya fatwa haram itu sebagai bagian politisasi agama yang pada ujungnya untuk mendukung salah satu calon presiden dan di satu sisi fatwa haram itu juga menjatuhkan salah satu capres. Sedangkan Republika melihar fatwa haram perempuan jadi presiden ini sebagai berikut: Republika melakukan keberimbangan berita dalam soal fatwa haram ini. Hal ini dibuktikan dengan sumber-sumber yang dikutip. Posisi Republika dalam masalah fatwa haram ini berkecenderungan ketengah dan tidak memperlihatkan kemihakannya. Sedangkan Koran Tempo dalam melihat fatwa haram ini tetap kritis terhadap keluarnya fatwa tersebut namun di satu sisi Koran Tempo mencoba bersikap moderat dengan tetap melakukan konfirmasi kepada Gus Dur yang selama ini menjadi ikon liberalisme pemikiran islam di Indonesia. Dalam kontek ini Gus Dur berada dalam posisi yang cenderung ke pihak yang ditunungkan oleh keluarnya fatwa tersebut

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: J Political Science > JA Political science (General)
Divisions: Faculty of Social and Political Science > Department of Communication Sience
Depositing User: Zainul Afandi
Date Deposited: 21 Jul 2012 03:37
Last Modified: 21 Jul 2012 03:37
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/12583

Actions (login required)

View Item View Item