PERGESERAN MAKNA AIR TUJUH SUMBER DALAM RITUAL SIRAMAN SEBAGAI SIMBOL KOMUNIKASI IDENTITAS BUDAYA (STUDI PADA GENERASI MUDA DUSUN GLONGGONG, KELURAHAN TEMAS, KOTA BATU)

Zatihanani, Masaya (2026) PERGESERAN MAKNA AIR TUJUH SUMBER DALAM RITUAL SIRAMAN SEBAGAI SIMBOL KOMUNIKASI IDENTITAS BUDAYA (STUDI PADA GENERASI MUDA DUSUN GLONGGONG, KELURAHAN TEMAS, KOTA BATU). Undergraduate thesis, Universitas Muhammadiyah Malang.

[thumbnail of PENDAHULUAN.pdf]
Preview
Text
PENDAHULUAN.pdf

Download (1MB) | Preview
[thumbnail of BAB I.pdf]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (158kB) | Preview
[thumbnail of BAB II.pdf]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (209kB) | Preview
[thumbnail of BAB III.pdf] Text
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (131kB) | Request a copy
[thumbnail of BAB IV.pdf] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (974kB) | Request a copy
[thumbnail of BAB V.pdf] Text
BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (417kB) | Request a copy
[thumbnail of BAB VI.pdf] Text
BAB VI.pdf
Restricted to Registered users only

Download (103kB) | Request a copy
[thumbnail of LAMPIRAN.pdf] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

Ritual siraman merupakan salah satu tradisi adat Jawa yang menggunakan air tujuh
sumber sebagai simbol penyucian diri, keberkahan, dan doa keselamatan bagi calon
pengantin sebelum memasuki jenjang pernikahan. Di tengah modernisasi dan
perkembangan media digital, generasi muda cenderung memaknai ritual ini secara lebih
sederhana, sebatas unsur estetika atau bagian dari rangkaian acara pernikahan, sehingga
dikhawatirkan nilai filosofis di baliknya semakin memudar. Penelitian ini bertujuan
untuk memahami bagaimana makna air tujuh sumber direpresentasikan sebagai simbol
komunikasi identitas budaya di kalangan generasi muda Kota Batu.
Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif
dan metode studi kasus. Penelitian dilakukan di Dusun Glonggong, Kelurahan Temas,
Kota Batu, melibatkan 10 subjek penelitian generasi muda dan 3 informan pendukung
yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara
mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan
model analisis studi kasus Robert K. Yin (2018) yang meliputi tahap compiling,
disassembling, reassembling, interpreting, dan concluding, serta diinterpretasikan
menggunakan teori simbolik budaya Clifford Geertz dan teori representasi Stuart Hall.
Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran makna air tujuh sumber
di kalangan generasi muda Kota Batu. Jika generasi tua memaknainya sebagai doa
keselamatan dan pertolongan Tuhan yang sarat nilai spiritual, generasi muda cenderung
memaknainya secara lebih sederhana, yakni sebagai simbol pembersihan diri dan
momen emosional bersama keluarga, bahkan sebagai kebutuhan konten visual di media
sosial. Pergeseran ini tidak menghilangkan eksistensi budaya, melainkan menunjukkan
bahwa komunikasi budaya bersifat dinamis; ritual siraman tetap menjadi sarana penting
bagi generasi muda dalam mengomunikasikan identitas budaya mereka meskipun
dengan cara pemaknaan yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Student ID: 202210040311117
Keywords: pergeseran makna, air tujuh sumber, ritual siraman, komunikasi budaya, identitas budaya, generasi muda
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions: Faculty of Social and Political Science > Department of Communication Science (70201)
Depositing User: 202210040311117 masayazati
Date Deposited: 10 Jul 2026 02:20
Last Modified: 10 Jul 2026 02:20
URI: https://eprints.umm.ac.id/id/eprint/31817

Actions (login required)

View Item
View Item