PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DESA ADAT BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 (Studi di Desa Dalam, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat)

Rahman Hakim, Andi (2007) PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DESA ADAT BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 (Studi di Desa Dalam, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
PENYELENGGARAAN_PEMERINTAH_DESA_ADAT_BERDASARKAN_UNDANG.pdf

Download (90kB) | Preview

Abstract

Setelah hampir 20 tahun terjadi proses penyeragaman desa berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979, Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Desa, yang membuat desa kehilangan jati diri, serta ciri khas yang melekat dan dijunjung tinggi bersama oleh seluruh masyarakat desa. Dengan kata lain, pengaturan desa tersebut telah merusak tatanan pemerintahan desa yang asli, dimana telah berlaku puluhan, bahkan ratusan tahun lalu, sebelum Republik Indonesia ada. Dampak paling nyata dari penyeragaman pengaturan desa, adalah rusaknya sendi-sendi pemerintahan adat, yang pada gilirannya akan merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Kemudian, ada juga indikasi hubungan tidak harmonis antara struktur masyarakat adat dan pemerintahan desa bentukan dari pusat, yang semakin menambah pengaruh negative pengaturan desa. setelah kejatuhan rezim orde baru, dan munculnya orde reformasi, membuat semangat untuk mengembalikan penyelenggaraan pemerintah desa adat kembali mengemuka. terlihat dari hasil amandemen ke-dua Undang-Undang Dasar 1945, yang kemudian menghasilkan perangkat hukum penunjang lainnya, yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. Setelah beberapa tahun dilaksanakan, akhirnya di revisi lagi menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Menggunakan Metode Diskriptif. Subjek penelitian ditentukan oleh peneliti. Sumber data berupa: nara sumber, dokumen atau arsip, serta peristiwa atau aktivitas. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi partisipasi, wawancara, dan menggunakan dokumen atau arsip dianggap penting untuk menunjang hasil penelitian. Instrumen pengumpulan data menggunakan telpon, kamera foto, dan peneliti sendiri dengan datang langsung ke lokasi penelitian untuk mengumpulkan data. Lokasi penelitian berada di Desa Dalam, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat. Teknik analisis data melalui beberapa tahap, diantaranya: reduksi data, kemudian display data, dan pengambilan keputusan. Seorang pemimpin haruslah memiliki beberapa persyaratan, diantaranya: (1) berakal, (2) berilmu, (3) dapat mengendalikan hawa nafsu, (4) berwajah tampan, (5) bisa dan mengerti membaca kitab dan hadits, (6) gagah perkasa, (7) lemah lembut dalam melahirkan ucapan, (8) memiliki perangai terpuji, (9) bersikap keras terhadap orang yang membuat aniaya, dan memberi perlindungan pada pihak yang mendapat penganiayaan, (10) mengasihi rakyatnya, (11) mengampuni segala kesalahan keluarga, kecuali karena pelanggaran hukum syara, (12) memerintahkan pelaksanaan segala pekerjaan dengan tertib, (13) membaca hikayat dan cerita dahulu kala untuk mengambil ibarat yang berfaedah daripadanya, (14) meneladani perangai raja-raja yang adil, (15) meneliti dan menimbang dengan seksama segala pekerjaan yang akan dilakukan, dan segala perihal yang menyangkut dirinya, (16) tiada lalai dari kenikmatan dunia. Salah satu bentuk upaya kepala desa dalam memelihara adat istiadat, yaitu ikut hadir dalam penyelenggaraan acara adat istiadat, diantaranya: (1) munit, atau munit adat, adalah upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang diselenggarakan pada waktu tertentu, sekali dalam setahun, yaitu di bulan Maulid, dengan maksud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang diselenggarakan di Masjid, Mushollah, serta Balai Desa. (2) Basunat (sunat), sebutannya bagi anak laki-laki, dan batoba untuk anak perempuan. Dilakukan untuk tujuan menjalankan salah satu Sunnah Nabi Muhammad SAW. (3) Barapan kebo (karapan kerbau), umumnya dimainkan oleh remaja dan orang dewasa. Permainan ini dilaksanakan di sawah ketika awal musim tanam, sebelum para petani membajak sawahnya. Tempat permainannya berlumpur. Diberi nama barapan kebo, karena permainan ini menggunakan sepasang kerbau (kebo) jantan yang di pacu, sambil di lecut, atau dipukul punggungnya dengan tongkat agar berlali cepat. Tongkat tersebut dinamakan mangkar. Orang yang mengendalikan kerbau berdiri di atas kareng, dan selalu berusaha agar pasangan kerbaunya dapat berlari kencang, untuk menjadi saka, atau tiang saka. Di Desa Dalam, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, telah terdapat prosedur untuk memilih seorang pemimpin. Kemudian masih juga bertahan acar adat isitiadat dalam kehidupan masyarakatnya. Agar adat-astiadat dalam kehidupan masyarakat desa tidak hilang, hendaknya pemerintah pusat lebih intens melakukan tugas pembantuan di desa-desa, khususnya terkait dengan upaya-upaya penelitian, dan pelestarian adat-iastiadat yang masih ada.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: J Political Science > J General legislative and executive papers
Divisions: Faculty of Social and Political Science > Department of Government Sience
Depositing User: Rayi Tegar Pamungkas
Date Deposited: 27 Jun 2012 03:05
Last Modified: 27 Jun 2012 03:05
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/9753

Actions (login required)

View Item View Item