FAKTOR PENYEBAB ANAK MELAKUKAN TINDAK PIDANA( Studi di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar )

NUR RASIANA, MUSTINING (2007) FAKTOR PENYEBAB ANAK MELAKUKAN TINDAK PIDANA( Studi di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar ). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
FAKTOR_PENYEBAB_ANAK_MELAKUKAN_TINDAK_PIDANA.pdf

Download (88kB) | Preview

Abstract

Kejahatan dapat diartikan sebagai suatu bentuk tingkah laku yang menyimpang dari anak-anak normal dengan latar belakang kehidupan keluarga yang berbeda-beda, terdapat anak yang melakukan tindak pidana atau kejahatan karena pendidikannya terlantar yang disebabkan keadaan keluarga yang pecah (broken home), ada juga yang karena kemiskinan atau karena orang tua yang tidak mampu sehingga menyebabkan anak melakukan perbuatan kejahatan. Ataupun karena pengaruh dari lingkungan, baik lingkungan dia tinggal di masyarakat atau lingkungan pendidikan dimana dia sekolah. Dari pengertian itu dapat disimpulkan betapa pentingnya peranan orang tua terhadap pola tingkah laku juga pendidikan anak, karena orang tualah yang bisa mengerti dan memahami anak, apalagi terhadap pendidikan. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu suatu analisa dengan menggunakan cara mengumpulkan data yang diperoleh dan menjelaskan secara terang dan jelas sehingga nantinya akan dapat ditarik kesimpulan dari permasalahan yang ada. Berdasarkan hasil wawancara dari 20 responden yang berada di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar yang mana dari beberapa responden kebanyakan melakukan tindak pidana pencurian, maka dapat diketahui beberapa faktor penyebab tindak pidana yang antara lain : karena keadaan ekonomi dengan nilai prosentase 35 %, karena keluarga broken home dengan jumlah 30%, karena diajak teman sebanyak 20%, karena kesal dan khilaf dengan jumlah prosentase 10%, dan yang terakhir karena untuk membela diri dengan prosentase 5%. Dari faktor penyebab tindak pidana tersebut, peneliti dapat menyimpulkan menjadi tiga faktor penyebab anak melakukan tindak pidana yang antara lain karena faktor dari keluarga adalah faktor yang utama, kemudian faktor dari lingkungan sekolah dan yang ketiga adalah faktor dari lingkungan masyarakat tempat tinggal. Proses pembinaan yang dilakukan oleh pihak LAPAS Anak Blitar terdiri dari empat tahap yaitu; Tahap Admisi Orientasi yaitu tahap perkenalan dan pemberitahuan mengenai hak dan kewajiban anak didik pemasyarakatan, Tahap Asimilasi I yaitu dimulai mengenai latar belakang kehidupan dan perbuatan yang dilakukan oleh anak tersebut, pembinaan ini pihak LAPAS bekerja sama dengan BISPA, Tahap Asimilasi II yaitu anak didik pemasyarakatan mulai dihubungkan dengan dunia luar misal, diikutsertakan dalam pengelolaan tanah pertanian, dan Tahap Integrasi yang merupakan tahap terakhir dalam pola pembinaan yaitu adanya pemberian cuti, pada tahap ini pengawasannya sudah dikurangi dengan syarat anak harus mendapatkan nilai baik selama menjalani pidana didalam LAPAS. Wujud Pembinaan yang dilakukan oleh pihak LAPAS Anak pada anak didik pemasyarakatan/ narapidana antara lain; Pendidikan Umum(SDS, SMP)yang dalam proses belajar mengajar LAPAS Anak bekerja sama dengan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Blitar, Pendidikan Keterampilan antara lain; membuat keset dan sapu dari kulit kelapa, dan membuat gamelan dari kayu, sedangkan pertanian yaitu menanam sayur terong, kangkung, bayam juga buah-buahan seperti papaya, ketela, kelapa dan lain sebagainya. LAPAS Anak Blitar mempunyai sawah yang tempatnya berada di belakang LAPAS, anak didik pemasyarakatan melakukan kegiatan ini pada jam pembebasan napi yaitu pada sekitar jam 07.30 sampai 10.00 pagi. Dalam bidang pertanian ini menguntungkan bagi pihak LAPAS sendiri, karena hasil pertaniannya digunakan untuk makanan sehari-hari anak didik pemasyarakatan, Pembinaan Mental Spiritual yaitu pendidikan agama dan budi pekerti, pembinaan ini diberikan dengan tujuan agar anak didik pemasyarakatan bisa memahami kekurangan dari dirinya, kenapa sampai melakukan tindak kejahatan, hal ini berawal dari sikap dan sifat individu, Sosial Budaya yaitu berupa kunjungan keluarga, dan juga belajar kesenian ( dalam LAPAS Anak ada band dan karawitan), Kegiatan Rekreasi, diarahkan pemupukan kesegaran jasmani dan rohani melalui olah raga, nonton tv, perpustakaan (baik dari perpustakaan keliling dan juga dari LAPAS Anak sendiri). Adapun tujuan dari pembinaan tersebut adalah untuk membangkitkan motivasi atau dorongan pada diri narapidana kearah pencapaian pembinaan serta meningkatkan pendidikan dan keterampilan guna mempersiapkan diri di tengah masyarakat setelah bebas menjalani pidana.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: K Law > K Law (General)
Divisions: Faculty of Law > Department of Law
Depositing User: Zainul Afandi
Date Deposited: 26 Jun 2012 03:00
Last Modified: 26 Jun 2012 03:00
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/9488

Actions (login required)

View Item View Item