PENGARUH KREDIBILITAS PENYIAR TERHADAP MINAT MASYARAKAT BATU DALAM MENYAKSIKAN PROGRAM ACARA DIALOG INTERAKTIF SEPUTAR PERTANIAN DI STASIUN TELEVISI AGROPOLITAN TELEVISI (ATV) (Studi Pada Masyarakat Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu)

NUCH, WAHYUDIN (2007) PENGARUH KREDIBILITAS PENYIAR TERHADAP MINAT MASYARAKAT BATU DALAM MENYAKSIKAN PROGRAM ACARA DIALOG INTERAKTIF SEPUTAR PERTANIAN DI STASIUN TELEVISI AGROPOLITAN TELEVISI (ATV) (Studi Pada Masyarakat Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
PENGARUH_KREDIBILITAS_PENYIAR_TERHADAP_MINAT_MASYARAKAT_BATU_DALAM_MENYAKSIKAN_PROGRAM_ACARA_DIALOG_INTERAKTIF_SEPUTAR_PERTANIAN_DI_STASIUN_TELEVISI_AGROPOLITAN_TELEVISI.pdf

Download (98kB) | Preview

Abstract

Sejak pemerintah membuka Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada tanggal 24 Agustus 1962, maka selama 27 tahun penonton televisi di Indonesia hanya dapat menonton satu saluran televisi. Dalam beberapa tahun belakangan ini industri pertelevisian di Indonesia telah berkembang sangat pesat. Bermula dari hanya satu setasiun televisi milik pemerintah, kini telah berkembang menjadi belasan televisi swasta yang berada di Jakarta dan daerah-daerah. Pada tahun 1989, pemerintah memberikan izin operasi kepada kelompok usaha Bimantara untuk membuka stasiun televisi, yaitu TPI yang merupakan televisi swasta pertama di Indonesia. Setelah adanya TPI kemudian disusul dengan RCTI, SCTV, Indosiar, dan ANTV, selain itu juga disusul dengan adanya stasiun televisi swasta yang cakupannya lokal atau yang tumbuh di masing-masing daerah, misalnya: JTV, Malang TV, Mahameru TV, dan Agropolitan Televisi atau ATV yang berlokasi di Jawa Timur. Sejak saat itu, penonton televisi Indonesia memiliki banyak pilihan dalam menikmati berbagai program acara televisi. Hampir setiap stasiun televisi melakukan siaran nasional dengan kandungan siaran yang nyaris sama, misalnya: entertainment, kuis, dan news, oleh karena itu pertelevisian harus berebut perhatian pemirsa di seluruh Indonesia, sehingga setiap stasiun televisi harus bisa mensiasati kompetisi tersebut. Salah satu kompetisi yang dimenangkan adalah kompetisi memenuhi kebutuhan pemirsa akan informasi yang aktual. Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi yang semakin canggih, informasi bukan hanya sekedar kebutuhan melainkan juga merupakan sumber kekuasaan, maka tidak salah jika ada pameo yang telah menjadi pendapat umum, bahwa siapa yang menguasai informasi, dialah yang menguasai masa depan. Kondisi demikian cenderung sedang terjadi dimasing-masing wilayah tingkat propinsi hingga kabupaten atau kotamadya. Masing-masing otoritas daerah berupaya untuk berlomba merebut stasiun televisi yang dapat menjadi wujud keterpihakan pada daerah yang bersangkutan, seperti halnya Agropolitan Televisi sebagai stasiun televisi milik Pemkot Batu yang berlokasi di Jl. Sultan Agung 17 Batu. Agropolitan Televisi (ATV) sebagai televisi yang memiliki jangkauan siaran hanya terbatas di wilayah kota Batu dan sebagian wilayah Kotamadya Malang, memiliki jargon “ATV sebagai stasiun televisi dari Batu untuk masyarakat Batu”, yang berupaya untuk dapat mengeksploitasi seluruh sumber-sumber potensi daerah Batu melalui beragam program acara, salah satunya yaitu Dialog Interkatif Seputar Pertanian yang ditayangkan setiap hari Kamis pukul: 14.00-15.00 dengan pembawa acara Sarah Mawardi. Melalui acara ini akan mengedepankan pelakanaan komunikasi yang terkait dengan dunia pertanian dan selalu mengundang nara sumber yang memiliki kepakaran atau keahlian dalam bidang pertanian, misalnya: Kepala Dinas Pertanian, para praktisi (pengusaha) agribisnis, dan sebagainya. Sebagai program acara yang menjadi unggulan stasiun televisi ATV, keberhasilan tayangan program acara Dialog Interaktif Seputar Pertanian akan sangat tergantung dari kapabilitas sang pemandu acara (penyiar) dalam menghidupkan suasana dialog interaktig antara nara sumber dengan pemirsa. Hal ini dikarenakan akan berhubungan langsung dengan audience. Wawasan dan skill yang memadahi, serta didukung dengan performa fisik yang menarik akan menjadi faktor yang sangat penting, artinya penyiar yang memiliki daya tarik dan berbakat adalah mereka yang bukan saja memiliki penampilan dan wajah yang menarik (cameraface photogenic), selain tiu juga harus memiliki kemampuan intelektual dalam menyampaikan materi yang dibawakannya, serta mampu berimprovisasi dan mempunyai kemampuan dalam hal penguasaan bahasa. Sebagai seseorang yang tampil di depan kamera, penyiar akan dipandang berkedudukan tinggi di mata pemirsa dikarenakan wawasan dan prestasi yang dimilikinya. Penyiar seringkali disebut filter akhir dari materi dialog yang sedang dikomunikasikan. Penyiar pulalah yang menjadi ujung tombak bagi keberhasilan atas program yang dibawakan. Adalah sebuah mimpi buruk bagi seorang penyiar apabila sebuah acara yang dipandu, ditinggalkan oleh pemirsanya. Melihat pengetahuan pemirsa yang terus berkembang dari waktu ke waktu, membuat mereka semakin kritis dalam menilai dan mengevaluasi setiap penampilan penyiar yang tampil di televisi. Celakanya lagi, teknologi komunikasi yang kini berkembang kian pesat telah menjadi katalisator yang sangat ampuh. Hanya cukup dengan menekan tombol, pemirsa bisa dengan mudah berpindah-pindah dari satu chanel ke chanel yang lain. Program acara tidak boleh monoton dan statis karena karena akan menimbulkan rasa bosan menimbulkan antipati pemirsa, karena pemirsa dalam menerima pesan dari media masa tidak dapat dipaksakan. Salah satu cara untuk “memaksa” pemirsa agar mau memperhatikan isi pesan dari pasan dari media masa adalah penyajian informasi yang penting dan menarik bagi pemirsa. Gobbel, Menteri Propaganda Jerman dalam Perang Dunia II menyatakan bahwa untuk menjadi seorang komunikator yang efektif harus mempunyai kredibilitas yang tinggi. Dalam suatu eksperimen di Northwestern University (AS) pada tahun 1949, ditampilkan dua orang pembicara yang berbeda dengan materi yang sama. Ternyata eksperimen itu menghasilkan kesimpulan adanya pembicara yang dapat memikat pendengar karena memiliki kredibilitas yang tinggi sementara pembicara yang lain kurang berhasil sebagaimana pembicara pertama. Oleh karena itu, Dialog Interaktif Seputar Pertanian di stasiun ATV dalam usaha menarik perhatian pemirsa, tidak cukup hanya dengan pengemasan paket materi yang menarik, tetapi juga harus menampilkan penyiar yang memiliki kredibilitas tinggi, diantaranya harus cerdas dan berpengetahuan luas. Alasan peneliti memilih penyiar atau pemandu program acara Dialog Interaktif Seputar Pertanian di ATV, karena selain sebagai stasiun baru, juga pertimbangan terhadap topik yang diangkat oleh stasiun tersebut, yang disesuaikan dengan kondisi geografis wilayah Batu. Topik ini sangatlah jarang disajikan secara khusus dan rutin dikupas menjadi program acara unggulan oleh stasiun televisi lain. Pertimbangan lain-lainnya adalah yang secara kebetulan peneliti termasuk sebagai crew dalam stasiun televisi tersebut sehingga akan memudahkan dalam perolehan data-data yang dibutuhkan dan pemahaman terhadap seluk beluk stasiun yang dimaksud. Menyikapi kondisi diatas, peneliti mencoba untuk menyajikan data yang sebenarnya melalui penelitian, menegenai pengaruh kredibilitas penyiar program acara Dialog Interaktif Seputar Pertanian Di Stasiun ATV. Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka penelitian ini memberi judul : “PENGARUH KREDIBILITAS PENYIAR TERHADAP MINAT MASYARAKAT BATU MENYAKSIKAN PROGRAM ACARA DIALOG INTERAKTIF SEPUTAR PERTANIAN DI STASIUN TELEVISI AGROPOLITAN TIVI (Studi pada Masyarakat Ds, Punten, Kec. Bumi Aji, Kota Batu)”.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
Divisions: Faculty of Agriculture & Animal Husbandry > Department of Agribusiness
Depositing User: Zainul Afandi
Date Deposited: 25 Jun 2012 10:09
Last Modified: 25 Jun 2012 10:09
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/9473

Actions (login required)

View Item View Item