TINJAUAN YURIDIS SOSIOLOGIS ATAS PELAKSANAAN MERGER BANK DI INDONESIA BERDASARKAN PP NO.28TAHUN 1999 TENTANG MERGER, KONSOLIDASI, DAN AKUISISI BANK( Studi di Bank Permata Malang

Yusuf, Benhar (2007) TINJAUAN YURIDIS SOSIOLOGIS ATAS PELAKSANAAN MERGER BANK DI INDONESIA BERDASARKAN PP NO.28TAHUN 1999 TENTANG MERGER, KONSOLIDASI, DAN AKUISISI BANK( Studi di Bank Permata Malang. Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
TINJAUAN_YURIDIS_SOSIOLOGIS_ATAS_PELAKSANAAN_MERGER.pdf

Download (165kB) | Preview

Abstract

Obyek studi dalam penelitian ini adalah mengenai prosedur Bank Bali merger dengan 4 bank (Bank Patriot, Bank Arta Media, Bank Prima Express, dan Bank Universal) sehingga menjadi Bank Permata. Adapun penelitian ini termasuk dalam penelitian diskriptif, yang akan meneliti dan membahas beberapa permasalahan, antara lain: prosedur Bank Bali merger dengan 4 bank (Bank Patriot, Bank Arta Media, Bank Prima Express, dan Bank Universal) sehingga menjadi Bank Permata, dan akibat hukum yang ditimbulkan atas terlaksananya merger bagi Bank Permata, dan yang menjadi pokok permasalahannya adalah: prosedur Bank Bali merger dengan 4 bank (Bank Patriot, Bank Arta Media, Bank Prima Express, dan Bank Universal) sehingga menjadi Bank Permata, dan akibat hukum yang ditimbulkan atas terlaksananya merger bagi Bank Permata. Tujuan penelitian ini, penulis berusaha memberikan wacana, informasi, atau bisa juga dijadikan sebagai bahan diskusi dalam hal ini mengenai merger. Selain itu juga penulis ingin memberikan gambaran dan kejelasan agar masyarakat dapat mengerti dan memahami tentang seluk beluk merger walaupun hanya sebatas sebagai pengetahuan baru. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah, penulis membagi dalam beberapa metode penelitian, antara lain: Pertama, Pendekatan, yaitu: yuridis sosiologis, Kedua, Sumber Data, yaitu: sumber data primer dan sumber data sekunder.Ketiga, Teknik Pengumpulan Data, yaitu: wawancara dan dokumen. Keempat, Analisa Data, yaitu : diskriptif kualitatif analitis. Hasil penelitian, adapun dalam hal ini, penulis mendapatkan beberapa hasil, antara lain : bahwa prosedur Bank Bali merger dengan 4 bank (Bank Patriot, Bank Arta Media, Bank Prima Express, dan Bank Universal) sehingga menjadi Bank Permata telah sesuai dengan PP No.28 Tahun 1999 yang mangacu pada pasal 11 sampai dengan pasal 22 tentang tata cara merger. Selama proses merger Bank Bali dan ke-empat bank yang telah disebutkan diatas maka seluruh kegiatan operasional bank baik itu mengenai usaha, kegiatan dan aktifitas bank yang menggabungkan diri disini selama masih dipertahankan dalam hal pelayanan kepada nasabah tetap berjalan dengan menggunakan karyawan yang tidak di-PHK. Sedangkan mengenai akibat hukum yang ditimbulkan atas terlaksananya merger bagi Bank Permata maka karyawan di-PHK dalam bentuk PHK efisiensi. Setelah itu karyawan diberikan pesangon sesuai dengan Pasal 62 UU No 13 Tahun 2003, serta Kepmenaker No 150 yang dimana proses PHK ini dijalankan dalam waktu 12 bulan dari tanggal merger dan disesuaikan dengan jadwal merger. Akibat hukum lainnya bagi debitur dan kreditur adalah kredit macet. Di sini cara penyelesaiannya sudah sangat lazim digunakan dalam dunia perbankan yaitu melakukan tindakan penyelamatan portofolio kredit dengan cara menggunakan metode 3R yaitu: Reschedulling (penjadwalan kembali), Reconditioning (persyaratan kembali), Restructuring (penataan kembali). Jalan keluar lainnya agar tidak terjadi kredit macet adalah merestrukturisasi kredit. Tindakan lainnya yaitu Write Off (penghapusanbukuan). Apabila para debitur tidak tercapai suatu kesepakatan untuk membayar atau mengangsur kreditnya maka upaya penyelesaian kredit macetnya di pengadilan negeri pusat atau di panitia urusan piutang negara (PUPN) atau di kejaksaan. Mengenai kedudukan Bank telah diatur dalam Keputusan Deputi Gubernur Bank Indonesia No:4/159/KEP.DpG/2002 Tentang Pemberian Izin Penggabungan Usaha (Merger). Setelah itu dikuatkan dengan Keputusan Deputi Gubernur Bank Indonesia No:4/162/KEP.DpG/2002 Tentang Perubahan Nama PT Bank Bali Tbk Menjadi PT Bank Permata Tbk. Sedangkan mengenai peningkatan aset serta permodalan bank pasca merger dari tahun 2002 s/d 2004 tentunya akan menjadikan daya tarik tersendiri bagi kreditur dan debitur. Hal ini terjadi peningkatan aset pasca merger dari tahun 2002 s/d 2004. Pada tahun 2002 dan 2003 aset permodalan bank pasca merger sebesar Rp. 28.027.532.000.000 dan Rp. 29.034.831.000.000 lalu meningkat menjadi Rp. 31.756.642.000.000 pada tahun 2004. Selain itu peningkatan kinerja bank juga dapat dilihat dari adanya peningkatan dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio, dimana CAR pasca merger pada tahun 2002 sebesar 4,07% dan mengalami kenaikan pada tahun 2003 menjadi 7,51% akan tetapi pada tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 6,71%.Bank Permata pasca merger pada tahun 2002 mengalami kerugian sebesar Rp. 808.221.000.000. Tetapi pada tahun 2003 dan 2004 mengalami peningkatan laba sebesar Rp. 564.508.000.000 dan Rp. 630.478.000.000. Dengan demikian, penulis mendapatkan kesimpulan, bahwasannya: prosedur Bank Bali merger dengan 4 bank (Bank Patriot, Bank Arta Media, Bank Prima Express, dan Bank Universal) telah sesuai dengan PP No.28 Tahun 1999 tentang merger, konsolidasi dan akuisisi bank dan akibat hukum yang ditimbulkan atas terlaksananya merger bagi Bank Permata yaitu bagi karyawan terjadi PHK, bagi debitur dan kreditur muncul kredit macet atau kredit bermasalah.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: K Law > K Law (General)
Divisions: Faculty of Law > Department of Law
Depositing User: Rayi Tegar Pamungkas
Date Deposited: 15 Jun 2012 03:28
Last Modified: 15 Jun 2012 03:28
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/7929

Actions (login required)

View Item View Item