PERSEPSI MASYARAKAT DAN PELAKSANAAN KHITBAH DI DESA LEMBOR KABUPATEN LAMONGAN MENURUT TINJAUAN ISLAM

IKHSAN, MAHBUB (2007) PERSEPSI MASYARAKAT DAN PELAKSANAAN KHITBAH DI DESA LEMBOR KABUPATEN LAMONGAN MENURUT TINJAUAN ISLAM. Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
PERSEPSI_MASYARAKAT_DAN_PELAKSANAAN_KHITBAHDI_DESA_LEMBOR_KABUPATEN_LAMONGANMENURUT_TINJAUAN_ISLAM.pdf

Download (133kB) | Preview

Abstract

Substansi dari penelitian ini adalah membahas tentang bagaimana persepsi masyarakaat dan bagaimana pelaksanaan khitbah di desa Lembor Kabupaten Laamongan ditinjau dari Islam. Dalam penelitian ini peneliti mengelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu : Pertama, kelompok umur 50 tahun ke atas, Kedua, kelompok masyarakat yang berumur dibawah 50 tahun di atas 30 tahun, Ketiga, kelompok masyarakat yang berumur dibawah 30 tahun yang sudah pernah melakukan khitbah. Berdasarkan hasil penelitian pada tanggal 5 Maret 2006 di desa Lembor kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan, mayoritas masyarakat mempunyai persepsi/pemahaman yang hampir sama tentang khitbah (3 kelompok diatas). ÿ Menurut kelompok pertama, mereka mempunyai pemahaman bahwa khitbah adalah sebuah proses untuk mengawali pernikahan setelah adanya persetujuan pihak keluarga laki­laki sebelum masuk prosesi khitbah yang biasanya persetujuan tersebut diawali oleh pihak keluarga perempuan meminta bantuan pihak III (orang yang dipercaya) untuk menanyakannya. Setelah ada persetujuan pihak keluarga laki­laki baru dilaksanakan prosesi khitbah. Dalam prosesi khitbah tersebut masyarakat di desa Lembor mengikuti kebiasaan orang­orang terdahulu (nenek moyang mereka). Yaitu Pihak keluarga perempuan yang harus datang ke rumah pihak keluarga laki­laki untuk melamar dengan membawa kue­kue khas desa Lembor yang ukurannya kira­kira 4 sampai 5 kali lipat dari kue­kue yang dijual di pasaran. ÿ Sedangkan menurut kelompok kedua, pemahaman mereka tentang khitbah juga tidak jauh berbeda dengan kelompok pertama di atas. Hanya saja titik perbedaannya pada tingkat ketaatan mengikuti budaya nenek moyang. Menurut kelompok ini prosesi peminangan yang dilakukan oleh nenek moyang tidak sepenuhnya harus diikuti. Misalnya sesekali pihak laki­laki yang yang harus datang ke rumah keluarga perempuan untuk melamar. Mengenai kue­kue yang dibawa pada saat prosesi peminangan tidak menjadi masalah mengikuti nenek moyang, dengan pertimbangan lebih mempertahankan kue khas. Artinya pada kelompok kedua ini pada tataran pelaksanaan mereka masih mereka masih mengikuti sepenuhnya kepada nenek moyang. ÿ Yang terakhir menurut kelompok ketiga, pemahaman mereka tentang khitbah juga hampir sama dengan kelompok kedua di atas. Tetapi baru sekedar persepsi saja karena pada kenyataannya mereka ternyata juga masih mengikuti orang tua. Demikian juga dengan kue­kue yang dibawa pada saat prosesi peminangan pada prakteknya mereka masih mengikuti nenek moyang. Namun, biarpun dari kalangan muda ini pada tataran cara berfikir sudah mulai ada benih­benih pendobrakan adat, tetapi pada tataran pelaksanaannya, mereka masih takut (belum berani) melawan kebiasaan yang sudah berjalan sejak beberapa tahun silam.Oleh karenanya dari data yang diperoleh di lapangan serta data­data dari beberapa sumber referensi yang sudah dikemukakan pada bab­bab sebelumnya, maka bisa dirumuskan sebagai berikut : Pertama, menurut Islam tidak ditemukan baik di dalam al­Qur’an maupun Hadits Rasulullah tentang adanya keharusan perempuan melamar laki­laki bahkan sebaliknya teks­teks hadits menyebutkan laki­laki yang melamar perempuan. Tetapi tidak ditemukan pula larangan perempuan melamar laki­laki. Oleh karena itu pelaksanaan khitbah di desa Lembor itu hukumnya mubah atau dibolehkan oleh syarak. Hal ini diperkuat dengan pendapat Sayyid Sabiq dalam kitabnya yang berjudul “Fiqhus Sunnah”. Kedua, tidak ditemukan baik dalam Al­Qur’an maupun Hadits tentang keharusan membawa kue­ kue tertentu, karena masalah ini hanyalah adat masyarakat saja. Selain itu tidak ditemukan juga ayat Al­Qur’an ataupun Hadits yang melarang untuk membawa kue kue tertentu dalam pelaksanaan khitbah. Oleh karena itu menurut Islam, membawa kue­kue tertentu dalam pelaksanaan khitbah itu boleh­boleh saja asal tidak diyakini sebagai lambang yang mempunyai akibat tertentu dalam kehidupan.. Wallahu a’lam.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Faculty of Islamic Studies > Department of Syariah
Depositing User: Zainul Afandi
Date Deposited: 11 Jun 2012 07:13
Last Modified: 11 Jun 2012 07:13
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/7131

Actions (login required)

View Item View Item