AUTISME DALAM FILM BIOLA TAK BERDAWAI (Analisis Semiotik pada Film Biola Tak Berdawai karya Sekar Ayu Asmara)

Bramasto, Insyaf Luhur (2006) AUTISME DALAM FILM BIOLA TAK BERDAWAI (Analisis Semiotik pada Film Biola Tak Berdawai karya Sekar Ayu Asmara). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
AUTISME_DALAM_FILM_BIOLA_TAK_BERDAWAI.pdf

Download (81kB) | Preview

Abstract

Dalam kehidupannya sehari-hari manusia selalu melakukan hubungan dengan orang lain, karena manusia merupakan makhluk sosial yang memerlukan orang lain untuk menyatakan dan mendukung identitas diri serta membangun kontak sosial dalam pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologisnya. Komunikasi merupakan alat untuk melakukan interaksi sosial antara manusia yang satu dengan manusia yang lain (komunikator dan komunikan), dan dengan itu manusia dapat menerima atau memberikan berbagi informasi yang belum atau telah diketahuinya lebih dulu kepada orang lain. Untuk beberapa alasan tertentu, proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan tujuan memberi informasi, pendidikan atau sekedar hiburan dilakukan melalui suatu media yang dapat menjangkau secara luas berkaitan dengan jarak atau heterogenitas komunikannya (khalayak ramai), atau kemampuan media tersebut untuk melakukannya dalam hitungan waktu yang serempak dalam arti hampir bersamaan, yaitu media massa. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana autisme yang coba digambarkan dan kondisi keberadaannya di masyarakat berkaitan dengan simbol-simbol yang digunakan dalam film Biola Tak Berdawai arahan sutradara Sekar Ayu Asmara. Film merupakan sebuah karya audio visual yang diyakini merupakan salah satu hasil dari kebudayaan sebuah negara, seperti dikatan oleh Menteri Kebudayaan, Seni, dan Pusaka (Culture, Art, and Heritage) Malaysia Datuk Seri Utama Rais Yatim pada saat membuka Festival Film Asia-Pasifik (FFAP) ke-50 yang bertempat di Kuala Lumpur, Malaysia (28/9/2005) "Film adalah budaya. Mari kita bangkitkan industri film karena sama artinya dengan menggugah semangat berbudaya,…". Film selalu merekam realitas atau isu-isu sentral yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan kemudian memproyeksikannya ke atas layar. Pendekatan semiotik adalah salah satu perspektif yang dapat dijadikan sandaran dalam membaca tanda-tanda yang terdapat pada film. Semiotika yang biasanya didefinisikan sebagai pengkajian tanda-tanda, pada dasarnya merupakan sebuah studi atas kode-kode, yaitu sistem apapun yang memungkinkan kita memandang entitas-entitas tertentu sebagai tanda-tanda atau sebagai sesuatu yang bermakna. Semiotik visual (visual semiotcs) merupakan salah satu bidang studi semiotika yang secara khusus menaruh minat pada penyelidikan terhadap segala jenis makna yang disampaikan melalui sarana indera lihatan (visual senses), dimana semiotik visual tidak lagi terbatas pada pengkajian seni rupa (Kris Budiman,2003:13). Oleh karenanya, pendekatan secara semiotik dalam analisis film akan menemukan konteksnya berkaitan dengan film sebagai bahasa yang dipenuhi oleh tanda-tanda atau dengan kata lain menganalisis film sebagai suatu struktur penandaan. Penelitian ini mencari fakta dengan interpretasi yang tepat dengan tujuan membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan-hubungan antar fenomena yang diselidiki, yang menurut Whitney disebut sebagai penelitian deskriptif. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwasannya tokoh Dewa menyandang autisme infantile (autisme pada masa kanak-kanak), dengan perilaku autistis defisit (berkekurangan); perilaku defisit ditandai dengan gangguan bicara, perilaku social kurang sesuai, defisit sensoris (sehingga dikira tuli). Kurang mampunya orang-orang terdekat Dewa dalam memperhatikan dan memberlakukanya, sehingga terjadi keterlambatan perkembangan keadaan Dewa. Masih banyaknya orang yang salah dalam mempersepsikan dan memperhatikan serta menangani atau menyikapi penyandang autisme pada khususnya dan penyandang kelainan yang lain pada umumnya, serta adanya orang atau pihak dalam keluarga yang tidak mendukung secara penuh dalam memperhatikan dan menyikapi para penyandang autisme atau penyandang kelainan yang lain dapat menyebabkan keterlambatan dalam penanganan yang dapat menyebabkan akan semakin sulitnya masalah yang dihadapi anak-anak penyandang autisme

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
Divisions: Faculty of Social and Political Science > Department of Communication Sience
Depositing User: Rayi Tegar Pamungkas
Date Deposited: 06 Jun 2012 02:44
Last Modified: 06 Jun 2012 02:44
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/6659

Actions (login required)

View Item View Item