PERSEPSI KEDUDUKAN ANAK ANGKAT DALAM HAK WARIS PADA MASYARAKAT ISLAM(Studi pada Warga Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang)

Febri Alamsyah, Tri (2007) PERSEPSI KEDUDUKAN ANAK ANGKAT DALAM HAK WARIS PADA MASYARAKAT ISLAM(Studi pada Warga Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
PERSEPSI_KEDUDUKAN_ANAK_ANGKATDALAM_HAK_WARIS.pdf

Download (161kB) | Preview

Abstract

Dalam masyarakat Indonesia berbagai alasan dilakukannya adopsi antara lain: tidak mempunyai anak, belas kasihan kepada anak yang kurang mampu atau anak yatim-piatu, telah mempunyai anak kandung sendiri tetapi semua laki-laki atau perempuan semua, atas dasar kepercayaan sebagai pemancing bagi yang tidak atau belum punya anak kandung, untuk mempererat hubungan kekeluargaan, untuk jaminan hari tua, dan karena unsur kepercayaan tertentu misalnya; punya weton yang sama dengan orang tuanya. Berbagai macam motivasi dari pengangkatan anak tersebut akan berdampak bukan saja pada masalah yuridis tetapi juga secara sosial dan psikologis khususnya masalah pewarisan anak angkat setelah orang tua anak angkat tersebut meninggal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengangkatan anak, kedudukan anak angkat dalam pewarisan dan mendeskripsikan hak-hak anak angkat. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Proses pengangkatan anak di Desa Ngebruk saat ini telah melalui proses secara hukum yaitu dengan penandatangani kesepakatan pengangkatan anak di depan notaris dan mendaftarkan akte kelahiran anak angkat di kantor catatan sipil untuk memperoleh identitas orang tua angkat sebagai orang tua kandung dari anak tersebut. 2. Bagi masyarakat desa Ngebruk, kedudukan anak angkat dibedakan menjadi dua, yaitu bila proses pengangkatan anak tersebut tidak dilakukan secara hukum, maka anak angkat tersebut berkedudukan sebagai anak asuh, artinya status orang tua kandung dari anak angkat tersebut tidak berubah, orang tua angkat hanya menggantikan kewajiban dan peran dari orang tua kandungnya,. Sedangkan untuk pengangakatan anak yang diproses secara hukum, kedudukan anak angkat adalah merupakan anak kandung bagi orang tua angkatnya yang sah dan diakui oleh hukum. 3. Kedudukan anak angkat terhadap warisan pada masyarakat desa Ngebruk dapat dibedakan menjadi dua macam. Yang pertama apabila proses pengangkatan tidak diproses secara hukum, maka anak angkat tersebut tidak akan mendapatkan hak waris dari orang tua angkatnya, akan tetapi hanya mendapatkan hibah/pemberian dari orang tua angkatannya sehingga kadang kalanya anak angkat tersebut masih mendapatkan hak waris dari orang tua kandungnya. Sedangkan untuk proses pengangkatan secara hukum, anak angkat merupakan pewaris harta kekayaan dari orang tua angkatnya karena statusnya secara hukum orang tua angkatlah sebagai orang tua kandungnya.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: K Law > K Law (General)
Divisions: Faculty of Law > Department of Law
Depositing User: Zainul Afandi
Date Deposited: 02 Jun 2012 03:29
Last Modified: 02 Jun 2012 03:29
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/6408

Actions (login required)

View Item View Item