IDENTIFIKASI LAHAN POTENSIAL UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA ANGGUR (Vitis sp.) DI PROBOLINGGO-JAWA TIMUR DENGAN MENGGUNAKAN SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS)

Ayu Ningrum, Diah (2006) IDENTIFIKASI LAHAN POTENSIAL UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA ANGGUR (Vitis sp.) DI PROBOLINGGO-JAWA TIMUR DENGAN MENGGUNAKAN SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
IDENTIFIKASI_LAHAN_POTENSIAL_UNTUK_PENGEMBANGAN.pdf

Download (145kB) | Preview

Abstract

Probolinggo merupakan salah satu “kota tua” buat anggur di Indonesia bahkan di juluki sebagai kota anggur. Tapi pamor kota ini kemudian pudar dan posisinya digantikan oleh Bali. Namun sejak 1984, Probolinggo bangkit lagi sehingga perkembangan tanaman anggur di sini melesat dengan sangat cepat. Tahun 1984 kota ini baru mempunyai 7.064 tanaman (± 14,12 Ha) kemudian tahun 1985 naik menjadi 13.207 tanaman (± 26,41 Ha), tahun 1986 berlipat menjadi 25.000 tanaman (± 50 Ha). Ini berarti terjadi kenaikan sekitar 46 % pada tahun 1984 dan 1985 dan untuk tahun 1986 juga mengalami kenaikan sekitar 47 %, jadi kalau dirata-rata pada periode tersebut terjadi kenaikan 46,5 % per tahun. Kelipatan merupakan gabungan tanaman lama yang masih ada dan tanaman baru yang mulai bermunculan ( Trubus, 1987). Menurut sejarahnya tanaman anggur berasal dari Armenia, tetapi budidaya anggur sudah di kembangkan di Timur Tengah sejak 4000 SM. Di Indonesia tanaman anggur mulai ditanam pada tahun 1800, misalnya dalam tahun 1828 Hoofdcommissie v.d Landbouw (Komisi Pusat Pertanian) pernah menyatakan, bahwa tanaman anggur ditemukan juga di daerah Besuki dan Banyuwangi. Baru pada tahun 1970-an tanaman anggur mulai menyebar di Probolinggo dengan menggunakan teknik kultur dan di kembangkan kemudian direkomendasikan oleh Departemen Pertanian sebagai jenis unggul adalah jenis Vitis vinifera dari varietas Anggur Probolinggo dan Alphonso Lavalle, selain itu jenis yang lainnya adalah Gross Collman, Probolinggo Putih, Isabella, Delaware, Chifung dan Australia (BAPPENAS, 2000). Di Indonesia anggur dikebunkan di dataran rendah mulai dari 0-300 m dpl, terutama di tepi-tepi pantai dengan musim kemarau panjang berkisar 4-7 bulan dan suhu rata-rata maksimal siang 31º C dan suhu rata-rata minimal malam hari 23 º C dengan kelembaban udara 75 – 80 %. Di daerah seperti itu intensitas sinar matahari sangat tinggi. Di Indonesia sentra anggur terdapat di Jawa Timur (Probolinggo, Pasuruan, Situbondo), Bali dan Kupang (NTT). Pengembangan daerah anggur untuk skala ekspor merupakan hal penting dalam budidaya anggur, karena akan mempengaruhi suatu pendapatan daerah dan semakin cepatnya pertumbuhan penduduk Indonesia mengakibatkan ketersediaan anggur dari tahun ke tahun semakin berkurang. Untuk memenuhi kebutuhan buah anggur sebagai buah lokal atau buah asli dari penduduk Probolinggo, pemerintah harus mengimpor dari luar. Data BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan Impor anggur Indonesia tahun 1991 – 1995 mencapai 26.501.977 kg senilai US$ 36.527.300 atau rata-rata per tahun sebesar 5.300.395,4 kg senilai US$ 7.305.. Konsumsi yang semakin meningkat tersebut mengharuskan Indonesia pada tahun 2000 mengimpor buah anggur dengan total nilai import dunia sekitar US $ 8,5 – 10,5 miliar (Sunarjono,1990). Permasalahan di atas terjadi karena kurangnya minat petani untuk melakukan usaha budidaya anggur, tidak adanya penampungan hasil produksi petani anggur, tidak adanya langkah-langkah khusus dari pemerintah untuk mendorong penanaman anggur secara meluas, lemahnya komitmen jangka panjang dan stabilitas pemerintah yang terkait dengan pengembangan komoditas anggur misalnya dalam bentuk intensif produksi dan karena secara umum penanaman anggur masih dilakukan di pekarangan-pekarangan rumah sehingga menyebabkan tingkat panen yang relative rendah (Setiadi,2003). Untuk meningkatkan ketersediaan anggur di Indonesia, maka diperlukan suatu program yang mengarah pada terpenuhinya kebutuhan anggur. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi beberapa lahan pertanian sehingga dapat diketahui lahan yang berpotensi untuk mengembangkan budidaya anggur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi lahan-lahan di Kabupaten Probolinggo yang potensial untuk pengembangan budidaya anggur (vitis sp.) dengan menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografis). Jenis penelitian yang digunakan adalah survey dengan aplikasi pengerjaan menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografi) yaitu suatu program berbasis komputer untuk mengelola data geografis yang memiliki kapabilitas pemetaan dan analisa segala sesuatu yang terdapat atau terjadi di permukaan bumi SIG (Sistem Informasi Geografis) atau suatu pemetaan untuk pengembangan lahan potensial budidaya anggur. Penelitian ini dilaksanakan di Probolinggo pada lahan potensial, waktu pelaksanaan pada awal Bulan Agustus 2005 sampai dengan Bulan November 2005. Metode Pengambilan data meliputi data beberapa syarat tumbuh tanaman anggur, peta analog (antara lain peta topografi, peta tanah), data dari sistem penginderaan jauh (antara lain citra satelit, foto udara), data hasil pengukuran lapangan (survey), dan analisa overlay ke satuan-satuan bahan atau data yang diperoleh kemudian masuk ke query sehingga dihasilkan data zona lahan yang sesuai untuk budidaya anggur. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa hasil analisa data spasial, data tabular dan analisa kesesuaian agroekologi yang didapatkan, maka dapat diidentifikasikan dengan cara query data beberapa kawasan yang potensial untuk pengembangan anggur pada penilaian kelas (S2), dari beberapa Kecamatan ini mempunyai jenis tanah yang sama yaitu jenis tanah alluvial. Untuk penilaian kelas (S1) tidak teridentifikasi Kecamatannya, karena karakterisasi anggur yang diinginkan tidak sesuai, selain itu faktor suhu udara dan drainase tanah yang tidak sesuai dengan syarat tumbuh anggur. Sedangkan Lahan potensial yang teridentifikasi untuk pengembangan budidaya anggur di Probolinggo terlihat pada penilaian Kelas (S2) faktor yang mendukungnya adalah topografi dan kondisi tanah yang kompatibel dengan syarat tumbuh anggur yaitu untuk (S2) topografi ketinggian >75 dan <100 atau >800 dan <1300m dpl, suhu udara 16°C - 22°C dan >26°C, curah hujan >500 dan <600 atau >1000 dan <1300 mm/thn, jenis tanah Aluvial kelabu tua dan Aluvial hidromorf & Aluvial kelabu tua dan Aluvial Kelabu coklat tua, tekstur tanah halus, drainase baik dan kelerengan 3-8%. Menurut Kriteria, kelerengan 3-8% masih bagus untuk digunakan tanaman pertanian ataupun perkebunan. Penilaian kelas (S3) dan (N) daerah juga tidak teridentifikasi, karena karakterisasi juga tidak kompatibel dengan syarat tumbuh anggur yang menginginkan daerah yang rendah dan panas.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: S Agriculture > SB Plant culture
Divisions: Faculty of Agriculture & Animal Husbandry > Department of Agronomy
Depositing User: Rayi Tegar Pamungkas
Date Deposited: 01 Jun 2012 06:32
Last Modified: 01 Jun 2012 06:32
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/6354

Actions (login required)

View Item View Item