PERSEPSI PESANTREN NGRUKI TERHADAP TERORISME (Studi Di Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo Surakarta Jawa Tengah)

AL ROSYID, BURHANUDIN (2006) PERSEPSI PESANTREN NGRUKI TERHADAP TERORISME (Studi Di Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo Surakarta Jawa Tengah). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
PERSEPSI_PESANTREN_NGRUKI_TERHADAP_TERORISME.pdf

Download (151kB) | Preview

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh suatu keinginan untuk menggambarkan bagaimana pengetahuan, sikap dan perilaku pesantren Ngruki terhadap Terorisme. Terorisme menjadi isu global setelah terjadinya serangan teroris pada 11 September 2001 di WTC New York dan Pentagon Washington area. Tragedi 11 September 2001 ini ternyata berdampak langsung kepada umat Islam di Indonesia, karena umat Islam di Indonesia yang dikenal moderat, tiba-tiba disorot dunia karena banyak teroris yang bersarang di Indonesia. Bahkan beberapa institusi pendidikan Islam di Indonesia ditengarai mempunyai kaitan dengan jaringan terorisme di Asia Tenggara, sorotan itu mulai menyempit ke Pesantren Al Mukmin Ngruki Solo. Terseretnya pesantren Ngruki dalam wacana “terorisme “ tidak lain karena orang yang paling dicurigai terlibat kasus terorisme di Asia Tenggara, Ustad Abu Bakar Baasyir adalah seorang pendiri dan pengasuh pesantren tersebut, bahkan keyakinan banyak pihak semakin menguat ketika peristiwa bom Bali 1 Oktober 2002 dan teror lainnya tersebut sebagian pelakunya memiliki keterkaitan dengan Ngruki atau setidak-tidaknya dekat dengan Abu Bakar Baasyir. Adalah Sidney Jones, Direktur Internasional Crisis Group (ICG) yang pertama kali melontarkan istilah “Jaringan Ngruki“ (Ngruki Network). Dalam sebuah artikel yang berjudul “Al Qaeda in Sotheast Asia : the case of the Ngruki network“ in Indonesia yang dimuat dalam situs ICG, tertanggal 8 Agustus 2002. Sidney Jones mengatakan bahwa kebanyakan orang yang melakukan tindakan teror di tanah air memiliki muara ke Pesantren Al Mukmin Ngruki, kemudian Sidney mengistilahkan “ Ngruki Network “ Sedangkan rumusan masalah pada penelitian ini ada 3 yaitu : Bagaimana pengetahuan pesantren terhadap aksi terorisme, bagaimana sikap pesantren terhadap aksi terorisme, bagaimana perilaku pesantren terhadap aksi terorisme. Sedangkan indikator yang digunakan adalah : 1) Pengetahuan terhadap aksi terorisme, 2) Pengetahuan terhadap tokoh dan alumni pesantren yang dituduh sebagai teroris, 3) Sistem Pendidikan atau kurikulum Pesantren, 4) Sikap pesantren terhadap jihad dan bom bunuh diri, 5) Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pesantren untuk melawan stigma teroris Pembahasan selanjutnya pada skripsi ini adalah uraian secara teoritik untuk memperjelas konsep yang telah ada dengan menggunakan buku-buku ataupun dengan referensi-referensi yang lain semisal internet dan jurnal-jurnal sehingga akan lebih meyempurnakan lagi dari skripsi ini. Jenis atau tipe penelitian ini adalah deskriptif. Sedangkan analisa data yang digunakan adalah kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah metode wawancara yang berpedomen pada Interview Guide ( Pedoman wawancara), dokumentasi, dan observasi. Populasinya adalah sebagian penghuni pesantren Ngruki yang berjumlah 50 orang yaitu : 30 santri dan 20 ustad. Sedangkan yang menjadi sample dari penelitian ini berjumlah 7 orang yaitu 1 pengasuh, 1 direktur, 1 Humas/ Jubir, 3 alumni pesantren, 1 masyarakat sekitar pesantren. Penelitian ini dilakukan di pesantren Al Mukmin Ngruki Surakarta Jawa Tengah. Adapun hasil dari penelitian ini adalah Sesungguhnya pesantren Ngruki dalam memaknai definisi aksi terorisme pada dasarnya sama. Yang terjadi adalah sebaliknya pihak-pihak diluar pesantren Ngruki masih belum bisa mendefinisikan aksi terorisme secara jelas dan mampu di terima oleh semua pihak. Dan mengenai kurikulum yang diajarkan di pesantren tersebut pada dasarnya sama dengan sistem pendidikan pesantren lainnya dan tidak ada kurikulum yang menyimpang sebagaimana yang dituduhkan oleh beberapa pihak. Terhadap tokoh-tokoh dan alumni pesantren yang selama ini dikaitkan dengan jaringan terorisme pihak pesantren tidak mempercayai tuduhan tersebut dan aktifitas pesantren terkait stigma tersebut tidak berdampak dan berjalan seperti biasanya. Sikap pesantren terhadap isu jihad dan bom bunuh diri pada dasarnya sama dengan pendapat sebagian besar pakar dan ulama. Dan mengenai jihad dan bom bunuh diri ini akhirnya pihak pesantren mempunyai persamaan persepsi yang dituangkan dalam “Deklarasi Ngruki“. Dan pihak pesantren Ngruki sudah berusaha dan bekerja keras di dalam upaya mengikis stigma negatif terhadap pesantren ini yaitu dengan cara konferensi pers dan seminar-seminar. Yang perlu dilakukan oleh pesantren Ngruki adalah lebih sering menjalin komunikasi politik, dan seminar-seminar terutama dengan pihak di luar pesantren baik itu dengan pakar, ulama bahkan pihak pihak yang selama ini memandang negatif terhadap pesantren Ngruki, sehingga ada titik temu dan persamaan persepsi mengenai aksi terorisme. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi pihak-pihak terkait dan lebih memahami dan menyamakan persepsi mengenai aksi terorisme.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: J Political Science > JS Local government Municipal government
Divisions: Faculty of Social and Political Science > Department of Government Sience
Depositing User: Rayi Tegar Pamungkas
Date Deposited: 26 May 2012 03:18
Last Modified: 26 May 2012 03:18
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/5952

Actions (login required)

View Item View Item