Mencetak Surat Kabar Masih Amat Menarik

Koran Kompas, Kompas (2008) Mencetak Surat Kabar Masih Amat Menarik. Mencetak Surat Kabar Masih Amat Menarik (13313).

[img]
Preview
Text
Mencetak_Surat_Kabar_Masih_Amat_Menarik.pdf

Download (23kB) | Preview
Official URL: http://www.umm.ac.id/arsip/en-arsip-koran-18.pdf

Abstract

MALANG, KOMPAS.com -Menjadi wartawan, meski tidak sungguhan, lalu rapat redaksi, menentukan topik tulisan, menulis lalu membuat lay out surat kabar hingga mencetaknya sendiri, dan kemudian menyaksikan surat kabarnya terbit, masih amat menarik. Demikian itu pula yang ditunjukkan sekitar 50 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) peserta Pendidikan dan Latihan Dasar Jurnalistik yang berlangsung Senin (15/12) Kamis ( 18/12) di Malang. Kegiatan pendidikan vokasional ini, kata Humas UMM Nasrullah yang memimpin acara, sangat didambakan oleh mahasiswa. Ini karena mahasiswa berkesempatan berinteraksi langsung dengan dunia kerja secara nyata, yang menjadi tumpuan harapan mereka selepas menyelesaikan studi. Panitia memutuskan melakukan seleksi karena peminat meningkat menjadi 70 mahasiswa, sementara daya tampung kegiatan hanya 50 mahasiswa. "Bahkan ada pendaftar dari mahasiswa luar UMM, meski kami tidak pernah membuat pengumuman. Informasinya merembet ke kalangan aktivis mahasiswa pers kampus, hingga aktivis sekolah lain ikut mendaftar. Dengan menyesal terpaksa kami tolak, karena keterbatasan sarana belajar," ungkap Nasrullah. Setelah dibuka hari Senin oleh Rektor UMM Dr Muhadjir Effendy, kelas dimulai dengan sejumlah pemaparan dari wartawan senior Kompas Max Margono, Noertjahjo dan editor Kompas Online Marcus Sancuk Suprihadi. Kegiatan praktek dibimbing oleh staf Diklat Kompas Santoso dan Cahyono untuk teknik peliputan dan fotografi. Evaluasi dilakukan oleh Max Margono dan Nopertjahjo. Panitia mengembangkan teknik kompetisi. Mahasiswa dibagi dalam kelompok, masing-masing beranggotakan delapan orang, yang hanya memiliki waktu hanya sehari untuk merancang organisasi kerja, menyiapkan liputan, meliput dan mengambil gambar (foto) dan menyetorkan berita sore harinya. Hari ketiga diisi dengan pembuatan layout halaman. Delapan kelompok yang terbentuk, hanya enam yang berhasil menyelesaikan tugas sesuai tenggat. Dua lainnya masih pontang-panting menge-print, menempel dengan lem di kertas layout, ketika juri evaluasi dengan tanpa ampun membuat penilaiaan. Tentu saja, dua kelompok terakhir, meski tetap dipajang juga, tak mungkin dinilai. Satu kelompok dinilai sebagai tim terbaik, dan berhak mendapat hadiah berupa buku-buku, serta piagam penghargaan. Khusnul Amin ketua tim yang memenangkan kompetisi dengan nama surat kabar BAROMETER mengaku menemukan manfaat yang besar dengan kesempatan Diklat oleh Tim Kompas itu. "Saya merasakan sendiri ketegangan nya, bagaimana rasanya bekerja di lingkungan bisnis surat kabar, menjadi paham etos kerja dan idealisme profesi jurnalis. Saya menyadari harus belajar lebih banyak untuk lebih siap setelah lulus," kata Khusnul, mahasiswa semeter tujuh Jurusan Agama Islam Fakultas Tarbiyah, yang sudah setahun terakhir aktif sebagai koordinator reporter pada penerbitan kampus UMM Bestari. "Diklat di kampus dan sekolah menengah dipilih secara sadar sebagai bagian dari proses regenerasi pembentukan masyarakat literasi. Bagi Kompas dan bagi bangsa ini misi penting pencerdasan bangsa," kata Santoso.

Item Type: Article
Subjects: A General Works > UMM News Archive
Divisions: Others
Depositing User: Anggit Aldila
Date Deposited: 14 May 2012 03:42
Last Modified: 14 May 2012 03:42
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/5122

Actions (login required)

View Item View Item