PENGARUH TINGKAT KETUAAN DAUN DAN DOSIS FILTRAT DAUNSAGA (Abrus precatorius) TERHADAP KADAR BILLIRUBIN SERUM DARAH TIKUS PUTIH (Ratus novergicus) YANG DI INDUKSI DENGAN KARBON TETRAKLORIDA (CCl4)

BADAWI, AKHMAD (2007) PENGARUH TINGKAT KETUAAN DAUN DAN DOSIS FILTRAT DAUNSAGA (Abrus precatorius) TERHADAP KADAR BILLIRUBIN SERUM DARAH TIKUS PUTIH (Ratus novergicus) YANG DI INDUKSI DENGAN KARBON TETRAKLORIDA (CCl4). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
PENGARUH_TINGKAT_KETUAAN_DAUN_DAN_DOSIS_FILTRAT_DAUNSAGA.pdf

Download (90kB) | Preview

Abstract

Di dunia dilaporkan bahwa terjadinya kasus hepatitis A setiap tahun mencapai 1,4 Juta, untuk prevalensi hepatitis B ada 350 juta dan untuk prevalensi hepatitis C ada 170 juta. Indonesia termasuk daerah dengan tingkat endemisitas yang sedang sampai tinggi, akan tetapi sampai sekarang obat untuk mengatasi penyakit tersebut hanya dapat dibeli oleh kalangan ekonomi menengah keatas saja, oleh karena itu perlu adanya obat alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut yakni dengan memanfaatkan tanaman obat seperti halnya daun saga. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian filtrat daun saga (Abrus precatorius) terhadap kadar billirubin tikus putih (Ratus novergicus) yang diinduksi dengan CCl4. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia UMM pada tanggal 19 Agustus - 4 September 2005 menggunakan penelitian eksperimental sungguhan (True Experimental), dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Adapun faktor pertama yaitu ketuaan daun terdiri dari dua taraf, yaitu daun tua dan daun muda, faktor kedua yaitu dosis filtrat terdiri dari tiga taraf, yaitu : dosis 0,15 ml, 0,3 ml dan 0,45 ml, sehingga diperoleh 6 perlakuan kombinasi dengan ditambah perlakuan kontrol (normal) dan perlakuan yang diberi CCl4, masing-masing perlakuan diulang empat kali. Populasi dalam penelitian ini adalah tikus putih (Ratus novergicus) strain Wistar, dengan ciri-ciri jantan dengan umur 2 bulan. Berat rata-rata tikus yang dipakai adalah: 200 gr. Adapun sampel pada penelitian ini adalah tikus putih dengan ciri yang telah disebutkan diatas sebanyak 24 ekor. Dalam penelitian ini juga dipakai tikus yang tanpa diberikan perlakuan dan juga tikus yang hanya diberi perlakuan dengan pemberian CCl4 saja, masing-masing perlakuan tersebut juga diberi ulangan sebesar 4 kali. Jadi jumlah sample perlakuan yang dipakai sebanyak 32 tikus putih.Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Simple Random Sampling dengan mengacak sampel yang akan dipakai dan mengelompokkannya dalam berbagai perlakuan yang akan dilakukan. Variabel bebas pada penelitian ini adalah tingkat ketuaan daun dan dosis filtrat daun Saga (Abrus precatorius) yaitu : Daun muda dengan dosis 0,15 ml, 0,3 ml dan 0,45 ml, dan untuk daun tua dosis yang diberikan adalah 0,15 ml, 0,3 ml, dan 0,45 ml. Sedangkan Varibel yang diukur (variabel terikat) pada penelitian ini adalah kadar billirubin total serum darah pada tikus putih (Ratus novergicus). Pengambilan data dilakukan dengan mengambil sampel darah tikus dari jantung dengan cara membedahnya sesuai dengan prosedur pembedahan, kemudian dilakukan pengukuran kadar billirubin total ditentukan dengan metode jandrassik & grof, yaitu dengan menambahkan Kafein, Na- asetat dan Na-benzoat sebelum pemberian asam doazosulfaninat dalam larutan fehling B (alkali) sehingga terbentuk warna biru yang dapat dibaca pada panjang gelombang 578 nm. Analisis data menggunakan ANAVA Dua Jalur, dengan uji lanjut BNT taraf 1%. Hasil penelitian menunjukan bahwa filtrat daun saga berpengaruh nyata terhadap penurunan kadar billirubin total serum tikus putih jantan. Ternyata pada kombinasi ketuaan daun dan dosis filtrat daun saga yang paling efisien menghambat kenaikan kadar billirubin total adalah kombinasi daun saga muda dengan dosis 0,45ml, kadar Billirubin = 0,2005 mg/dl. Kadar billirubin total yang diberi CCl4 yaitu = 3,26 mg/dl, sedangkan kadar normal billirubin = 0.126 mg/dl. Daun muda memiliki kandungan metabolit sekunder lebih banyak dibanding dengan daun tua, hal ini berarti ada pengaruh tingkat ketuaan terhadap kadar glisirizin, karena glisirizin merupakan salah satu metabolit sekunder. Semakin besar dosis maka kandungan zat aktifnya akan lebih banyak. Hal ini berarti semakin besar dosis yang digunakan maka kadar glisirizin semakin banyak, sehingga akan lebih efisien pada waktu menurunkan kadar Billirubin. Proses glisirizin dapat menurunkan kadar billirubin dapat ditinjau pada waktu penghambatan peroksidasi lipid, karena glisirizin bertindak sebagai antioksidan.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: Q Science > Q Science (General)
Divisions: Faculty of Teacher Training and Education > Department of Biology Education
Depositing User: Zainul Afandi
Date Deposited: 07 May 2012 03:21
Last Modified: 07 May 2012 03:21
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/4445

Actions (login required)

View Item View Item