UMM Institutional Repository

PENELANTARAN ISTRI SEBAGAI ALASAN GUGAT CERAI (Studi Kasus Perkara Putusan No.1117/ Pdt.G/ 2014 /PA.Mlg dan 392/Pdt.G/2014/PA.Mlg)

SANTOSO, AGUS (2016) PENELANTARAN ISTRI SEBAGAI ALASAN GUGAT CERAI (Studi Kasus Perkara Putusan No.1117/ Pdt.G/ 2014 /PA.Mlg dan 392/Pdt.G/2014/PA.Mlg). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
jiptummpp-gdl-agussantos-43664-1-pendahul-n.pdf

Download (256kB) | Preview
[img]
Preview
Text
jiptummpp-gdl-agussantos-43664-2-babi.pdf

Download (133kB) | Preview

Abstract

Keyword : Perceraian, Penelantaran Istri, Pandangan dan Pendapat Hakim, Hukum Islam. Abstrak Setiap perkara perceraian yang diajukan ke Pangadilan Agama harus memenuhi salah satu ketentuan pasal 116 Kompilasi Hukum Islam tersebut. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian skripsi mengenai perkara penelantaran seorang suami terhadap istri. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dasar hukum yang berkaitan dengan penelantaran oleh suami terhadap istri serta bagaimana pandangan hukum islam terhadap putusan tersebut. Penelitian ini mengkaji tentang studi putusan perkara nomor 1117/Pdt.G/2014/ PA.Mlg dan 392/Pdt.G/2014/PA.Mlg. Metode yang penulis lakukan dalam penelitian di Pengadilan Agama Malang menggunakan metode Yuridis Normatif. Adapun yang dibahas dalam penelitian ini tidak berkenaan dengan angka-angka, tetapi mendiskripsikan, dan memenguraikan putusan. Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan bahwa dasar-dasar yang digunakan oleh Majelis Hakim dalam memutus perkara nomor tersebut telah sesuai hukum yang berlaku baik UU No. 1 Tahun 1974 maupun Kompilsai Hukum Islam. Kemudian dari tinjauan hukum islam terhadap dasar hukum dan pertimbangan hakim di dalam memutus perkara cerai gugat. Allah SWT dalam Al-Quran surat ath-Thalaq ayat 7, Al-Baqarah ayat 23 dan 229. Penahanan istri tanpa memberikan nafkah kepadanya adalah perlakuan buruk kepadanya. Jadi apabila suami tidak mampu menafkahi istri, maka istri boleh meminta cerai. Dan apabila suami tidak menafkahi serta meninggalkan istri selama 3 tahun tanpa ada kabar maka itu termasuk penelantaran dan suami termasuk orang yang dhalim. Menurut Mazhab Hanafi dan Syiah al-Imamiyah berpendapat bahwa tidak boleh dilakukan pemisahan yang diakibatkan oleh tidak adanya nafkah dari suami karena suami bisa jadi orang miskin ataupun orang kaya. Jadi, siapa yang tidak mampu memberikan nafkah kepada istrinya maka suami tidak dituntut untuk memberikan nafkah secara langsung. Jika dia adalah orang kaya maka dia adalah orang yang dhalim sebab ketidak mampuannya untuk memberikan nafkah. Akan tetapi, pencegahan kezalimannya tidak dengan melalui cara berpisah dengannya, akan tetapi dengan menggunakan cara yang lain seperti dengan cara menjual hartanya secara paksa untuk menginfaki istrinya. Sedangkan pendapat jumhur fuqaha yakni ketiga imam membolehkan pemisahan akibat tidak adanya nafkah. Dari pendapat diatas, pendapat jumhur fuqaha yakni ketiga imam yang lebih kuat, karena pendapatnya sesuai di dalam hukum khususnya Al-Quran.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Faculty of Islamic Studies > Department of Islamic Family Law (Ahwal Syakhshiyyah) (74230)
Depositing User: Mr Ahmad Adi Husada
Date Deposited: 26 Oct 2016 08:18
Last Modified: 26 Oct 2016 08:18
URI : http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/34084

Actions (login required)

View Item View Item
UMM Official

© 2008 UMM Library. All Rights Reserved.
Jl. Raya Tlogomas No 246 Malang East Java Indonesia - Phone +62341464318 ext. 150, 151 - Fax +62341464101
E-Mail : infopus[at]umm.ac.id - Website : http://lib.umm.ac.id - Online Catalog : http://laser.umm.ac.id - Repository : http://eprints.umm.ac.id

Web Analytics

UMM Institutional Repository is powered by :
EPrints Logo