UMM Institutional Repository

KAJIAN TERHADAP ALASAN MEMPELAI MEMILIH PENGHULU SEBAGAI WAKIL WALI NIKAH DI KANTOR URUSAN AGAMA KECAMATAN KLOJEN KOTA MALANG

ARINA, (2012) KAJIAN TERHADAP ALASAN MEMPELAI MEMILIH PENGHULU SEBAGAI WAKIL WALI NIKAH DI KANTOR URUSAN AGAMA KECAMATAN KLOJEN KOTA MALANG. Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
jiptummb--arina07120-27391-2-babi.pdf

Download (85kB) | Preview
[img]
Preview
Text
jiptummb--arina07120-27391-1-pendahul-n.pdf

Download (1MB) | Preview

Abstract

Dalam Islam, sebuah pernikahan mengikat antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah rumah tangga dengan adanya suatu akad atau perjanjian. Dalam sebuah pernikahan, wali adalah seseorang yang bertindak atas nama mempelai perempuan dalam suatu akad nikah. Keberadaan seorang wali dalam akad nikah adalah suatu keharusan dan tidak sah akad nikah yang tidak dilakukan oleh wali. Wali ditempatkan sebagai rukun dalam pernikahan. Secara umum wali nikah terdiri dari wali nasab dan wali hakim. Apabila wali nasab mujbir (memaksa) tidak ada, maka beralih pada wali nasab yang tidak memaksa. Apabila semua wali nasab telah terlewati dan tidak ada yang memenuhi syarat, maka hak perwalian berpindah kepada wali hakim. Hal ini bertentangan dengan yang terjadi di Indonesia, sebagian besar pasangan mempelai dinikahkan oleh penghulu sedangkan wali nasabnya masih ada. Kenyataan ini menarik perhatian peneliti untuk mengetahui alasan para mempelai menikah berwalikan penghulu, sedangkan wali nasabnya masih ada. Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang dilakukan pada pasangan mempelai yang mencatatkan pernikahannya di KUA kecamatan Klojen kota Malang pada bulan Maret tahun 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara secara mendalam (in depth interview). Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa ada dua alasan utama mengapa para mempelai memilih penghulu sebagai wali nikah, yaitu: 1. Kurangnya pengetahuan, yang meliputi: a. Adanya anggapan dalam masyarakat bahwa yang menikahkan seorang wanita lebih afdhol dilakukan oleh penghulu; b. Banyaknya asumsi-asumsi masyarakat yang keliru, yaitu jika bapaknya masih ada maka wali nikah adalah bapaknya sendiri, namun jika bapak kandung sudah tidak ada, maka hak menikahkan diberikan kepada penghulu, sedangkan wali nasab hanya sebagai orang yang menyaksikan pernikahan; c. Adanya asumsi masyarakat yang menganggap bahwa penghulu adalah salah satu syarat sah suatu pernikahan; d. Masih adanya pola pikir tradisional, dimana para orang tua tidak mengetahui hak dan kewajiban orang tua atas anak-anak mereka; dan 2. Masalah personalitas, yaitu wali nasab tidak tega, merasa gugup dan terharu sehingga tidak sanggup menikahkan putri dikeluarga mereka.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology
Divisions: Faculty of Islamic Studies > Department of Syariah
Depositing User: Mrs Ruli Alfi
Date Deposited: 15 Jun 2016 03:00
Last Modified: 15 Jun 2016 03:00
URI : http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/32048

Actions (login required)

View Item View Item
UMM Official

© 2008 UMM Library. All Rights Reserved.
Jl. Raya Tlogomas No 246 Malang East Java Indonesia - Phone +62341464318 ext. 150, 151 - Fax +62341464101
E-Mail : infopus[at]umm.ac.id - Website : http://lib.umm.ac.id - Online Catalog : http://laser.umm.ac.id - Repository : http://eprints.umm.ac.id

Web Analytics

UMM Institutional Repository is powered by :
EPrints Logo