UMM Institutional Repository

EKSISTENSI KOMPAS DALAM FILSAFAT HERMENEUTIKA (Konvergensi Filsafat China dan Jawa Antara Pemikiran Petrus Kanisius Ojong dan Jakob Oetama)

JAMSARI, (2011) EKSISTENSI KOMPAS DALAM FILSAFAT HERMENEUTIKA (Konvergensi Filsafat China dan Jawa Antara Pemikiran Petrus Kanisius Ojong dan Jakob Oetama). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
jiptummpp-gdl-s1-2011-jamsari072-24173-PENDAHUL-N.pdf

Download (688kB) | Preview
[img]
Preview
Text
jiptummpp-gdl-s1-2011-jamsari072-24173-BAB+I.pdf

Download (401kB) | Preview

Abstract

Objek penelitian ini adalah falsafah Kompas, falsafah hidup P K Ojong dan Jakob Oetama. Dasar penelitian ini berlatar belakang pada konvergensi filsafat China dan Jawa yang mempengaruhi eksistensi Kompas. Kompas menjadi sebuah perusahaan yang memiliki cita-cita, tujuan, bidang usaha, pimpinan dan manjemen beda dengan perusahaan media massa lainnya. Keunggulan Kompas terletak dalam nilai-nilai falsafah dan pemikiran para perintisnya. Bukti dari eksistensinya adalah Kompas memilih jurnalistik anggun (jurnalistik humanisme) dengan mengedepankan humaniora dan humanisme transendental. Ditafsirkan dari falsafah Kompas dan falsafah hidup P K Ojong dan Jakob Oetma maka Kompas memiliki kedekatan konvergensi filsafat China dan Jawa. Maka dari itu, diperlukan pembongkaran teks falsafah Kompas dengan hermeneutika. Bagaimana pengolahan ide-ide dan perilaku pembuat teks yang terdapat di dalam falsafah Kompas. Bertolak dari latar belakang tersebut, kemudian peneliti mengangkat rumusan masalah, bagaimana eksistensi Kompas dalam filsafat hermeneutika (konvergensi filsafat China dan Jawa antara Pemikiran P K Ojong dan Jakob Oetama)? Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan eksistensi Kompas dalam falsafahnya atas pengaruh pemikiran kedua tokoh perintisnya yaitu: P K Ojong dan Jakob Oetama. Penelitian ini menggunakan tipe interpretatif dengan pendekatan kualitatif. Untuk menganalisis data maka dipilih hermeneutika Hans Georg Gadamer dan Poul Ricouer. Hermeneutika dialogis Gadamer menjawab beberapa pertanyaan dan pernyataan yang terkandung dalam teks falsafah Kompas. Kebenaran yang ingin dicapai adalah bukan melalui metode tetapi melalui dialektika dengan mengajukan beragam pertanyaan. Sehingga dengan begitu, bahasa dijadikan medium penting bagi terjadinya suatu dialog. Hermeneutika Poul Ricouer melihat teks Kompas dan falsafah kedua perintisnya adalah prejudgment (prasangka) untuk memahami makna melalui integrasi dialektis dari dikotomi Dilthey yaitu melalui penjelasan (explanation) dan pemahaman (understanding). Selain itu dia berangkat dari sebuah paradigma interpretasi teks tertulis dan (discourse) dan percakapan (dialogue). Penafsir (interpreter) memiliki kebebasan interpretasi. Teks dan pembaca memiliki jarak yang saling mengikat dengan pembaca, dan jarak antara teks dan pembaca adalah ruang dialogis dalam hermeneutika. Di samping itu bagian dari teks bisa mencapai keseluruhan makna manakala hermeneutika di pandang sebagai lingkaran makna dan interpretasi. Artinya membaca Kompas bisa karena melihat P K Ojong dan bisa karena Jakob Oetama. Sehingga melalui pisau analisis hermeneutika dialogis Gadamer dan historiesnya Ricouer peneliti bisa membongkar bagaimana reksistensi Kompas dalam filsafat hermeneutika apakah terpengaruh adanya konvergensi filsafat China dan Jawa oleh para pendirinya. Dalam karya tulis ini, peneliti akan menggunankan hermeneutika untuk memetakan makna dibalik falsafah Kompas atas dasar falsafah hidup perintisnya. Kemudian peneliti mengamati bagaimana terjadinya konvergensi filsafat China dan Jawa terhadap eksistensi Kompas sampai saat ini. Dari hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa, gerak jiwa Ojong adalah berfilsafat Konfusius, Neo-Konfusius, sosialisme-fabian-demokrat. Aplikasinya melalui usaha dan bisnis dengan filsafat humanis, toleransi dan prikemanusiaan. Percampuran antara manusia, alam, dan Tuhan ketika bekerja keras untuk mencapai cita-cita, tujuan, etika, manajemen, dan pimpinan kolektif. Jakob adalah berkarakter Madya; mengambil jalan tengah dengan prinsip hidup Jawa yaitu prinsip kerukunan dan prinsip hormat. Jakob memilih gaya, karakter tenang, kalem, sabar, dan mawas diri (waskito), lebih hati-hati dalam menentukan kebijakan serta lebih berpikir mendalam untuk keselamatan perusaan Kompas dan masa depan Kompas mendatang. Oleh karena Jakob mengambil sistem jurnalitik humanisme atau jurnalistik anggun. Jadi, eksistensi Kompas dalam konvergensi filsafat China dan Jawa antara pemikiran P K Ojong dan Jakob Oetama adalah mimpi dari dua ide untuk semua karyawan yang ada di Kompas, dan masyarakat Indonesia. Konvergensi tersebut lantas melahirkan culture matters, yaitu; penyebaran produk kebudayaan, produk peradaban, produk kecerdasan manusia dengan pengetahuan humaniora dan humanisme transendental. Sumber daya manusia adalah aset eksistensi Kompas.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: H Social Sciences > HE Transportation and Communications
Divisions: Faculty of Social and Political Science > Department of Communication Science
Depositing User: Ida Fitriani Noor
Date Deposited: 16 May 2016 04:50
Last Modified: 16 May 2016 04:50
URI : http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/30136

Actions (login required)

View Item View Item
UMM Official

© 2008 UMM Library. All Rights Reserved.
Jl. Raya Tlogomas No 246 Malang East Java Indonesia - Phone +62341464318 ext. 150, 151 - Fax +62341464101
E-Mail : infopus[at]umm.ac.id - Website : http://lib.umm.ac.id - Online Catalog : http://laser.umm.ac.id - Repository : http://eprints.umm.ac.id

Web Analytics

UMM Institutional Repository is powered by :
EPrints Logo