UMM Institutional Repository

UNSUR-UNSUR KONSUMTIVISME PADA KOMUNITAS DANDY (PESOLEK) (Analisis Isi dalam Film Legally Blonde)

Heriani, Kurnia (2011) UNSUR-UNSUR KONSUMTIVISME PADA KOMUNITAS DANDY (PESOLEK) (Analisis Isi dalam Film Legally Blonde). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
jiptummpp-gdl-s1-2011-kurniaheri-21168-PENDAHUL-N.pdf

Download (220kB) | Preview
[img]
Preview
Text
jiptummpp-gdl-s1-2011-kurniaheri-21168-BAB+I.pdf

Download (106kB) | Preview

Abstract

Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial tidak menafikkan akan kebutuhan berkomunikasi. Fungsi ini kemudian yang mendorong manusia berinteraksi dengan berbagai macam cara untuk mengekspresikan dirinya. Seni sebagai salah satu ajang individu kreatif untuk mengungkapkan perasaannya yang diafirmasikan kedalam karya. Film adalah bentuk karya seni yang sangat digemari manusia dari berbagai penjuru dunia. Beberapa pengalaman membuktikan, setelah menonton film yang kita senangi, pastinya akan berdampak pada psikologis kita. Pada tataran diluar kepentingan personal, film juga memiliki aspek industrial yang berperan sebagai komoditas seni dan aspek ideologis yang bertujuan kepada propaganda strategis. Globalisasi ekonomi dan digitalisasi menawarkan kondisi baru bagi sebagian produksi film. Film Hollywood contohnya, telah mengalami perubahan besar yang nyaris disemua tempat di dunia. Kebanyakan film yang ditonton berasal dari Hollywood. Pada suatu titik perkembangan film Hollywood, lebih mengarah kepada nilai komersial. Menurut presiden direktur eksekutif Twentieth Century Fox, Strauss Zenick, beberapa film dibuat dengan anggaran tinggi sehingga dibutuhkan kisah pendongkrak dan bintang yang menunjang kesuksesan pula. Dalam film Legally Blonde, diceritakan seorang gadis remaja cosmo berambut pirang bernama "Elle Woods" beremansipasi terhadap identitasnya yang menurut stereotipe masyarakat Amerika, seorang "blonde" (pirang) hanya identik dengan hura-hura dan penampilan diri, serta menampikkan kualitas intelektual. Gaya hidup Elle beserta teman-temannya didominasi oleh aktivitas bersolek, memiliki sistem interaksi yang bersifat in-group, ekstrovert dalam pengungkapan perasaan, kesamaan hobi dan tertarik kepada persolekan, sehingga dikategorikan kedalam komunitas Dandy (pesolek). Dandy tidak hanya sebatas pada wanita, kaum priapun sekarang nyaman dengan pesolekan. Namun, perempuan lebih berhasrat dalam mengakses kebutuhan tersebut. Hal ini tentunya juga terdapat campur tangan yang kuat oleh para industri kapitalis dan media dalam mengkonstruksi mitos kecantikan, yang pada akhirnya menjadi sebuah konstruksi sosial dalam masyarakat. Dandy merupakan salah satu bentukan proses tersebut, yang memiliki orientasi terhadap kepentingan penampilan dan gaya berbusana yang trendi. Para dandy juga memiliki kecanderungan hedonis dalam kesehariannya yang diwujudkan kedalam kegiatan sosialisasi yang sifatnya bersenang-senang, seperti pesta. Sehingga karakteristik yang dimiliki oleh komunitas dandy identik dengan unsur-unsur konsumtivisme. Penelitian ini berisikan penggambaran terhadap nilai-nilai konsumtivisme beserta intensitas kemunculannya dalam beberapa scene. Dilatarbelakangi oleh sikap dan perilaku serta aktivitas komunitas dandy yang gemar terhadap fesyen dan pakaian, pemanjaan diri dengan bentuk-bentuk perawatan tubuh, serta intensitas dalam mengkonsumsi kebutuhan tersebut dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya. Gaya hidup tersebut tidak lepas dari status sosial yaitu kelas menengah sosial atas dan kebanggan yang dipertahankan demi pemenuhan kebutuhan akan pesolekan. Serta identitas sebagai perempuan cosmo yang memiliki wawasan tentang daya tarik fisik dan pesolekan secara global. Karakteristik dari komunitas dandy yang kemudian digunakan sebagai pedoman dalam pembentukan indikator kedalam kategori sebagai aspek yang masuk kedalam unsur-unsur konsumtivisme dalam metode analisis isi. Dalam penelitian ini ditemukan unsur-unsur konsumtivisme berkaitan dengan komunitas dandy, yaitu konsumsi terhadap barang dan jasa untuk kecantikan secara berlebihan, tuntutan untuk selalu tampil trendi, pemanfaatan waktu luang dengan berpesta dan berbelanja. Aspek berikutnya yang menunjang konsumtivisme adalah bergaya hidup kosmopolitan, kepemilikan dan pemilihan benda pribadi ber-merk, wawasan yang luas tentang fesyen dan pakaian, dan kebanggaan terhadap lingkungan komunitas dan reputasi. Setelah melakukan analisa dengan melakukan pengamatan di setiap scene dan mengaplikasikan rumusan-rumusan yang dipakai analisis isi maka disimpulkan secara keseluruhan dari film Legally Blonde terdapat 92 scene, unsur-unsur konsumtivisme terdapat 39 scene, dengan persentase sebesar 42,4%. Yang terbagi dalam dua kategori yaitu, insting berperilaku konsumtif sebanyak 20 scene (21,7%), dan kategori insting terhadap nilai prestise sebanyak 19 scene (20,7%).

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: H Social Sciences > HE Transportation and Communications
Divisions: Faculty of Social and Political Science > Department of Communication Science (70201)
Depositing User: Ida Fitriani Noor
Date Deposited: 04 May 2016 02:55
Last Modified: 04 Jan 2018 03:48
URI : http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/29076

Actions (login required)

View Item View Item
UMM Official

© 2008 UMM Library. All Rights Reserved.
Jl. Raya Tlogomas No 246 Malang East Java Indonesia - Phone +62341464318 ext. 150, 151 - Fax +62341464101
E-Mail : infopus[at]umm.ac.id - Website : http://lib.umm.ac.id - Online Catalog : http://laser.umm.ac.id - Repository : http://eprints.umm.ac.id

Web Analytics

UMM Institutional Repository is powered by :
EPrints Logo