UMM Institutional Repository

HAMBATAN PENYIDIK DALAM MELAKSANAKAN REKONSTRUKSI KASUS TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi terhadap Berita Acara Pemer iksaan Nomor BP/109/VIII/2012/Reskrim)

Apridianto, Rifky (2014) HAMBATAN PENYIDIK DALAM MELAKSANAKAN REKONSTRUKSI KASUS TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi terhadap Berita Acara Pemer iksaan Nomor BP/109/VIII/2012/Reskrim). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
jiptummpp-gdl-rifkyaprid-34510-2-babi.pdf

Download (103kB) | Preview
[img]
Preview
Text
jiptummpp-gdl-rifkyaprid-34510-1-pendahul-n.pdf

Download (548kB) | Preview

Abstract

Rekonstruksi tindak pidana merupakan salah satu rangkaian penyidikan yang dilaksanakan dengan tujuan memperkuat Berita Acara Pemeriksaan. Timbul permasalahan apabila tersangka menolak untuk melaksanakan rekonstruksi dalam suatu prosedur penyidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tindakan penyidik apabila tersangka menolak untuk melaksanakan rekonstruksi dan juga hambatan yang dialami penyidik dalam melaksanakan rekonstruksi dalam tindak pidana pembunuhan. Dalam penelitian ini, Penulis menggunakan pendekatan yuridis-sosiologis. Penelitian dilaksanakan di Polres Bondowoso dengan sumber data berupa wawancara dan dokumentasi. Untuk pengolahan data, penulis menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa tidak ada konsekuensi hukum apabila tersangka memutuskan untuk tidak melaksanakan rekonstruksi. Ini dijamin oleh ketentuan Pasal 52 KUHAP yang menyatakan bahwa tersangka berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik. Sehingga dalam hal ini sebenarnya tidak ada konsekuensi bagi tersangka yang tidak bersedia melaksanakan rekonstruksi, dan sebagai akibatnya, penyidik harus memanfaatkan bukti-bukti lain untuk mengungkap kasus. Dalam hal melengkapi Berita Acara Pemeriksaan, rekonstruksi memiliki peran memperjelas tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka dan memberi keyakinan kepada penyidik tentang tindak pidana yang terjadi. rekonstruksi tersebut memberikan gambaran kepada penyidik mengenai posisi dan penggunaan berbagai alat bukti, serta dimana saksi berada ketika tindak pidana tersebut berlangsung. Hambatan penyidik dalam melakukan rekonstruksi terdiri atas hambatan internal dan eksternal. Hambatan internal terdiri atas tersangka yang berbelit-belit memberikan keterangan, serta penyidik yang memaksa tersangka untuk bersedia melakukan rekonstruksi. Hambatan eksternal terdiri atas saksi yang menolak untuk melakukan rekonstruksi, masyarakat yang marah dan memberikan ancaman terhadap tersangka, serta lokasi rekonstruksi yang tidak kondusif.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: K Law > K Law (General)
Divisions: Faculty of Law > Department of Law
Depositing User: Mrs Ruli Alfi
Date Deposited: 27 Apr 2016 03:24
Last Modified: 27 Apr 2016 03:24
URI : http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/28266

Actions (login required)

View Item View Item
UMM Official

© 2008 UMM Library. All Rights Reserved.
Jl. Raya Tlogomas No 246 Malang East Java Indonesia - Phone +62341464318 ext. 150, 151 - Fax +62341464101
E-Mail : infopus[at]umm.ac.id - Website : http://lib.umm.ac.id - Online Catalog : http://laser.umm.ac.id - Repository : http://eprints.umm.ac.id

Web Analytics

UMM Institutional Repository is powered by :
EPrints Logo