PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP WARNA NYALA API PADA PEMBAKARAN DIFUSI MINYAK KELAPA

GALIH PRANOWO, DONY (2010) PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP WARNA NYALA API PADA PEMBAKARAN DIFUSI MINYAK KELAPA. Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
PENGARUH_TEMPERATUR_TERHADAP_WARNA_NYALA_API_PADA_PEMBAKARAN_DIFUSI_MINYAK_KELAPA.pdf

Download (54kB) | Preview

Abstract

Fluktuasi suplai dan harga bahan bakar minyak (BBM) seharusnya membuat kita sadar bahwa jumlah cadangan yang ada di bumi semakin menipis. Pengembangan teknologi biokonversi untuk memproduksi bahan bakar nabati (biofuel) dari sumber daya dapat diperbarui sekarang ini merupakan prioritas utama. Pemerintah telah mengumumkan rencana untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan bakar minyak (BBM) dengan menerbitkan PP Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bilangan cetana (CN) biodiesel lebih tinggi dari pada minyak diesel(solar). Angka cetana rata-rata minyak diesel 45, sedangkan biodiesel 62 untuk yang berbasis kelapa sawit, 51 untuk jarak pagar dan 62,7 untuk yang berbasis kelapa sayur [Soerawidjaja, 2003]. Bedanya yaitu minyak kelapa memiliki lebih banyak oksigen dan nilai kalorinya lebih rendah dari solar, sehingga membuat proses pembakaran pada minyak kelapa lebih sempurna dan bersih. Disamping kelebihan di atas minyak kelapa juga mempunyai kelemahan yaitu dalam penggunaan minyak kelapa dapat memadat sehingga menyumbat saluran pipa, saringan dan terutama pada penyembur atau nosel. Pembakaran minyak juga dapat tidak terbakar sempurna, sehingga menimbulkan banyak asap dan memungkinkan terjadinya endapan karbon pada ujung penyembur minyak. Parameter keberhasilan awal dari penelitian pembakaan difusi minyak kelapa adalah miyak kelapa bisa terbakar, dari hasil penelitian menunjukan bahwa pada tekanan 25°C minyak kelapa sudah bisa terbakar tapi hanya sedikit saja minyak kelapa yang terbakar, itu disebabkan karena temperatur yang rendah akan mengakibatkan minyak yang dikabutkan oleh nosel terlalu sedikit dan akhirnya sedikit pula minyak yang bereaksi dengan oksigen dari udara yang merupakan syarat terjadinya pembakaran. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa minyak kelapa dapat terbakar pada temperatur ruang atau temperatur 25°C. Dan pada temperatur 100°C terjadi pembakaran sempurna ini dtandai dengan warna nyala api yang paling terang. ABSTRACT The fluctuation in the supply and the price of fuel oil (FUEL OIL) ought to make us realise that the number of available reserves in the earth increasingly diminished. The development of technology biokonversi to produce the vegetable fuel (biofuel) from resources could be renewed now was the main priority. The government announced the plan to reduce the Indonesian dependence on fuel oil (FUEL OIL) by publishing PP Nomor 5 in 2006 about the policy of Nasional Energy. Several researches showed that the sum cetana (CN) biodiesel higher than diesel oil (diesel fuel). The figure cetana in general diesel oil 45, whereas biodiesel 62 to that was based on the oil palm, 51 for the distance of the fence and 62.7 to that was based on the vegetables coconut [Soerawidjaja, 2003]. His difference that is coconut oil had more oxygen and the value calorie him was lower than diesel fuel, so as to make the process of the burning to coconut oil more perfect and clean. Beside the surplus on coconut oil also had the weakness that is in the use of coconut oil could come closer together so as menyumbat the pipe channel, the filter and especially to the sprayer or nosel. The burning of oil also was able to be not burnt perfect, so as to cause many smokes and to enable the occurrence of carbon sediment on the end the oil sprayer. The success parameter of early of the research pembakaan diffusion of coconut oil was miyak the coconut could be burnt, from results of the research menunjukan that in the pressure 25C coconut oil could have been burnt but just a few coconut oil that was burnt, that was caused because the low temperature will result in oil that dikabutkan by nosel too few and finally seldom also oil that reacted with oxygen from air that was the condition for the occurrence of the burning. From results of the research could be concluded that coconut oil could be burnt in the temperature of space or the temperature of 25C. Dan in the temperature 100C this perfect burning happened dtandai with the colour of the clearest flame.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: T Technology > TJ Mechanical engineering and machinery
Divisions: Faculty of Engineering > Department of Mechanical Engineering
Depositing User: Rayi Tegar Pamungkas
Date Deposited: 16 Apr 2012 01:52
Last Modified: 16 Apr 2012 01:52
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/2238

Actions (login required)

View Item View Item