DAMAMI, MOHAMMAD (2010) Keterasahan Batin Lewat Puasa Ramadlan (2). Suara Muhammadiyah Edisi 16 (14551).
|
Text
07.pdf Download (165Kb) | Preview |
Abstract
Makan-minum yang tepat adalah makan-minum yang seukur dengan kebutuhan kesehatan dan kebutuhan penggantian sel-sel yang aus. Namun ukuran normal ini sangat sering dikacaukan oleh “keinginan” atau nafsu berlebih, karena terpancing oleh nikmatnya rasa di lidah. Dalam hidup keseharian, setiap manusia berjuang untuk menyeimbangkan antara ukuran kebutuhan nyata tubuh dan tarikan keinginan/nafsu berlebih yang didorong oleh nikmatnya rasa pada lidah. Di sinilah “shiyaam” yang berarti “membuat jarak sementara” antara seseorang dengan makan-minum yang sedang dihadapi sangat membantu untuk memecahkannya. Jika prinsip shiyaam tercapai, maka kerja pencernaan menjadi normal dan kebutuhan kesehatan dan penggantian sel-sel tubuh berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu, ada pepatah yang disinggung TM Hasbi Ash-Shiddieqy (1987: 330), “al-bathnu ashlu-‘d-daa’i wa‘l-himyatu ashlu-’d-dawaa’i” = perut itu pangkal penyakit dan pantang merupakan pangkal penawar penyakit. Karena itu pula Nabi Muhammad saw membiasakan mengisi perutnya dengan 1/3 (sepertiga) untuk makanan, 1/3 untuk minuman, dan 1/3 untuk pernafasan.
| Item Type: | Article |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc > Muhammadiyah Articles |
| Divisions: | Others |
| Depositing User: | Rayi Tegar Pamungkas |
| Date Deposited: | 10 Apr 2012 03:37 |
| Last Modified: | 10 Apr 2012 03:37 |
| URI: | http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/1998 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
