TINJAUAN YURIDIS SOSIOLOGIS TERHADAP KASUS “MAIN HAKIM SENDIRI” (Pembunuhan Oleh Massa Terhadap Pelaku Curanmor Di Wilayah Hukum Polsek Bululawang Dan Polsek Singosari)

Rahman Hakim, Arfah (2006) TINJAUAN YURIDIS SOSIOLOGIS TERHADAP KASUS “MAIN HAKIM SENDIRI” (Pembunuhan Oleh Massa Terhadap Pelaku Curanmor Di Wilayah Hukum Polsek Bululawang Dan Polsek Singosari). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
TINJAUAN YURIDIS SOSIOLOGIS TERHADAP KASUS “MAIN HAKIM SENDIRI”.pdf

Download (200kB) | Preview

Abstract

Objek sekaligus topik dalam tugas akhir ini adalah mengenai “Tinjauan Yuridis Sosiologis Terhadap Kasus “Main Hakim Sendiri” (Studi Terhadap Pembunuhan Oleh Massa Terhadap Pelaku Curanmor Di Wilayah Hukum Polsek Bululawang dan Polsek Singosari”, dengan permasalahan mengenai : (1). Secara Sosiologis, faktor-faktor apa yang mempengaruhi/mendorong masyarakat melakukan tindakan Main Hakim Sendiri? (2). Apa kendala Kepolisian dalam menangani tindakan Main Hakim Sendiri oleh massa? Dalam penelitian ini penulis mengambil Lokasi penelitian di Wilayah Hukum Polsek Singosari dan Polsek Bululawang Malang, dengan pertimbangan bahwa berdasarkan data/fakta awal terutama dari media koran Lokal Malang (Radar Malang) di Wilayah ini sering terjadi kasus “Main Hakim Sendiri”. Dalam penelitian ini data yang diambil terdiri dari dua macam data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer : data yang diambil dari metode Survey atau penelitian di lapangan, serta Peraturan Perundangan yang terkait dengan topik permasalahan. Sedangkan Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari hasil Studi Pustaka yang bersumber dari berbagai bahan bacaan, baik berupa Buku-Buku, Majalah, Surat Kabar, maupun bentuk bacaan lain yang berhubungan dengan masalah di atas. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan cara atau teknik : (1). Dokumentasi, yaitu pencatatan secara Sistematis dan teratur berdasarkan Informasi atau keterangan dari pihak Kepolisian tentang semua masalah yang ada hubungannya dengan kasus tindakan “Main Hakim Sendiri” tersebut. (2). Teknik Interview atau wawancara, yaitu cara untuk memperoleh informasi melalui wawancara langsung dengan responden. Dari dua kasus Eigenrichting yang dijadikan studi kasus dalam skripsi ini, sesungguhnya pelaku berkisar 50 orang tidak semuanya dijadikan responden, akan tetapi dipilih sendiri oleh penulis sesuai dengan kriteria dan pertimbangan tertentu yaitu sebanyak 20 orang sebagai sampel. Dasar pertimbangan pemilihan sampel tersebut adalah mereka yang betul-betul pelaku atas dasar infoormasi dari korban curanmor. Kemudian data yang diperoleh dari rangkaian penelitian dari hasil studi lapang, maupun dari hasil studi pustaka, kemudian dikumpulkan, diklasifikasi, dan dianalisa. Analisa data yang sudah ada akan dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analisis yaitu menggambarkan data-data yang ada atau fakta yang ditemukan di lapangan dikaitkan dengan teori-teori dan Peraturan Perundangan dalam Hukum Positif yang menyangkut permasalahan di atas. Berdasarkan hasil penelitian penulis menyimpulkan beberapa hal yang terkait dengan topik permasalahan yang diangkat yaitu, antara lain sebagai berikut : Pertama, Secara Sosiologis diperoleh data bahwa faktor penyebab utama dari tindakan Main Hakim Sendiri itu adalah : (a). Supaya pelaku curanmor tidak melakukan perbuatan lagi (residivis) atau pelaku kejahatan yang pernah melakukan perbuatan serupa (curanmor) menjadi jera. (b). Masyarakat tidak lagi mempercayai upaya Hukum yang dilakukan oleh pihak Kepolisian. (c). Karena ikut-ikutan saja, ketika melihat massa secara anarkhis dan membabi buta menghajar pelaku mereka ikut-ikutan. (d). Perbuatan curanmor sudah sangat meresahkan masyarakat. Kedua, Kendala-kendala yang dialami pihak Kepolisian dalam menanggulangi kejahatan Main Hakim Sendiri, antara lain adalah : (a). Tidak adanya laporan mengenai tertangkapnya pelaku oleh massa. (b). Tidak adanya laporan mengenai adanya tindakan Main Hakim Sendiri. (c). Letak TKP yang jauh dari markas Kepolisian, khususnya di Wilayah Hukum Polsek Bululawang dan Wilayah Hukum Polsek singosari. (d). Tidak ada masyarakat yang mau memberikan ketarangan (saksi) terhadap Tindakan Main Hakim Sendiri. (e). Ruang tahanan yang kurang memadai untuk tempat tahanan dalam perkara yang melibatkan massa. (f). Minimnya anggota Kepolisian setingkat Polsek. Salah satu wujud dan tanggung jawab moral penulis terhadap upaya penegakan Hukum terutama dalam rangka penanggulangan kasus tindakan Main Hakim Sendiri oleh massa, maka penulis menyarankan beberapa hal, antara lain sebagai berikut : (1).Hendaknya masyarakat menyadari bahwa tindakan Main Hakim Sendiri, sesungguhnya adalah merupakan tindakan kejahatan, sehingga diharapkan masyarakat agar sadar dan tidak segan-segan untuk melaporkan tindakan kejahatan Main Hakim Sendiri kepada Petugas Kepolisian, jika terjadi kasus tersebut. (2). Untuk menghindari rasa takut agar segera masyarakat untuk melaporkan kasus Main Hakim Sendiri, kepada Petugas Kepolisian, dan hendaknya pihak Kepolisian memberikan perlindungan serta jaminan kepada si pelapor. (3). Dalam rangka memperlancar proses penyidikan terutama penahanan para tersangka, hendaknya kepolisian memperhatikan pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana penunjang seperti perluasan ruang tanahan sehingga dapat menampung tahanan dalam jumlah yang besar.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: K Law > K Law (General)
Divisions: Faculty of Law > Department of Law
Depositing User: Zainul Afandi
Date Deposited: 26 Jul 2012 06:38
Last Modified: 26 Jul 2012 06:38
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/13482

Actions (login required)

View Item View Item