Koran Tempo, Tempo (1988) Jika agama diseminarkan. Jika agama diseminarkan (128).
Full text not available from this repository.Abstract
KALAU diingat-ingat, penasaran -- akademis yang dirasakan oleh Prof. Mukti Ali ketika ia menjabat Menteri Agama bisa juga menimbulkan simpati. Coba saja pikir. Ia baru saja "memenangkan" suatu argumentasi, bahwa agama itu (khususnya Islam) bukan saja harus diyakini dan diamalkan, tetapi bisa pula, bahkan perlu, diteliti. Serta merta ia menghadapi masalah yang pelik. Jika memang demikian halnya apakah telah tersedia perangkatan metodologisnya? Kalau "penelitian sosial" sudah jelas masalahnya, meskipun di antara para ilmuwannya selalu timbul cekcok. Tetapi bagaimana dengan "penelitian agama"? Bukankah agama tak dapat diperlakukan hanya sebagai kenyataan empiris belaka? Hakikat agama sesungguhnya terletak pada sesuatu yang "melampaui" kenyataan empiris itu. Bukankah pula agama itu adalah sesuatu yang menyangkut keyakinan manusia yang paling dalam? Di manakah batas antara keyakinan yang subyektif dan penelitian yang semestinya rasional dan obyektif? Masalahnya tambah repot, karena waktu itu terasa seakan-akan tak ada contoh yang bisa dipakai sebagai pedoman.
| Item Type: | Article |
|---|---|
| Subjects: | A General Works > UMM News Archive |
| Divisions: | Others |
| Depositing User: | Anwar Jasin |
| Date Deposited: | 21 Feb 2012 05:53 |
| Last Modified: | 21 Feb 2012 05:53 |
| URI: | http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/128 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
