ADAT KAWIN LARI “MERARIQ ATAU BESEBO” DI TINJAU DARI HUKUM PERKAWINAN DAN HUKUM PIDANA (Studi di Desa Janapria, Lombok Tengah NTB)

NOORSIANA, ELITA (2006) ADAT KAWIN LARI “MERARIQ ATAU BESEBO” DI TINJAU DARI HUKUM PERKAWINAN DAN HUKUM PIDANA (Studi di Desa Janapria, Lombok Tengah NTB). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img] Text
ADAT_KAWIN_LARI_“_MERARIQ_ATAU_BESEBO”.pdf

Download (180B)

Abstract

Kawin lari adalah perkawinan yang dilakukan oleh salah satu daerah di Indonesia, yaitu kawin lari yang dilakukan oleh Suku Sasak Di Lombok Nusa Tenggra Barat. Di daerah tersebut memang mengenai perkawinan sangatlah unik bahkan sangat menarik untuk menjadi obyek pariwisata. Adapun istilah yang digunakan dalam Suku Sasak mengenai kawin lari yaitu mereka biasanya menyebutnya dengan istilah merariq, yang artinya tindakan pertama dari si pemuda untuk atau membawa lari si gadis yang diinginkannya atau dicintainya dari kekuasaan orang tuanya atau keluarga yang menjadi wali si gadis ketempat keluarga si pemuda, dengan maksud untuk mendapatkan si gadis atau menjadikan dia sebgai istrinya. Dalam penulisan skripsi ini, penulis akan mengemukakan tiga permasalahan tentang adat kawin lari “merariq atau besebo” ditinjau dari hukum perkawinan dan hukum pidana, yakni mengenai bagaimana proses terjadinya kawin lari” merariq atau besebo” dalam Suku Sasak dan kawin lari merariq atau besebo” di tinjau dalam perspektif Undang- Undang No.1 Tahun 1974 serta kawin lari di tinjau dari perspektif KUHPidana. Dalam penulisan tugas akhir ini penelitian dilakukan di Desa Janapria, Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat dengan metode penelitian yakni dengan menggunakan jenis data primer dan data sekunder, metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan wawancara dan dokumentasi serta metode analisa data deskriptif kualitatif. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses terjadinya kawin lari pada Suku Sasak, serta bagaimna keabsahan kawin lari“merariq atau besebo” menurut hukum perkawinan dan bagaimana kawin lari “merariq atau besebo menurut KUHPidana. Adapun hasil penelitian penulis, ditemukan secara umum sebagai berikut: sesuai dengan Undang- undang No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan, memiliki beberapa hal pokok tentang perkawinan yaitu antara lain mengenai tujuan perkawinan, masalah pencatatan perkawinan, masalah umur telah ditentukan dengan baik, namun pada kenyataannya hal- hal tersebut diatas didalam pelaksanaannya tidak diterapkan sehingga pelaksanaan dalam masyarakat tentang Undang- undang No.1 Tahun 1974 kurang terealisasi. Sedangkan menurut KUHPidana kawin lari atau membawa lari perempuan merupakan suatu tindak pidana karena telah mengambil anak gadis dari kekuasaan orang tuanya. Tetapi pada kenyataannya kawin lari tidak bisa ditindak pidana karena adanya pertentangan dari hukum adat dalam masyarakat setempat. Dari hasil penelitian tersebut Undang- undang perkawinan sebenarnya sudah sangat baik menerapkan pasal- pasal dalam masalah perkawinan tetapi kenyataan membuktikan bahwa pelaksanaannya dalam masyarakat tidak bisa berjalan seperti apa yang telah ditentukan dalam Undang- undang No.1 Tahun 1974 serta tidak sesuai dengan hukum positif kita yaitu KUHPidana. Keadaan seperti ini yang harus dilihat adalah dikarenakan kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Desa Janapria khususnya mengenai perkawinan dan hukum positif kita yaitu KUHPidana.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: K Law > K Law (General)
Divisions: Faculty of Law > Department of Law
Depositing User: Anggit Aldila
Date Deposited: 23 Jul 2012 03:05
Last Modified: 23 Jul 2012 03:05
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/12723

Actions (login required)

View Item View Item