MODEL PENGEMBANGAN AGROFORESTRY PADA LAHAN MARGINAL DALAM UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN DI KRPH CLEBUNG BKPH CLEBUNG KPH BOJONEGORO

SURNIYAH, SURNIYAH (2006) MODEL PENGEMBANGAN AGROFORESTRY PADA LAHAN MARGINAL DALAM UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN DI KRPH CLEBUNG BKPH CLEBUNG KPH BOJONEGORO. Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
MODEL_PENGEMBANGAN_AGROFORESTRY_PADA_LAHAN_MARGINAL_DALAM_UPAYA_PENINGKATAN_PENDAPATAN_MASYARAKAT_SEKITAR_HUTAN_DI_KRPH_CLEBUNG_BKPH_CLEBUNG_KPH_BOJONEGORO.pdf

Download (51kB) | Preview

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah: mengetahui tingkat keberhasilan pengembangan model agroforestry dilahan marginal, peningkatan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat disekitar kawasan hutan rakyat, mengetahui perbedaan pertumbuhan tanaman jati agroforestry dan non agroforestry. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan hutan rakyat Desa Clebung Kecamatan Bubulan Kabupaten Bojonegoro. Pemilihan daerah penelitian ini dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan daerah tersebut merupakan salah satu daerah yang memiliki program pengembangan agroforestry di lahan marginal. Rerata luas andil masing-masing petani yang melakukan pola agroforestry seluas 0,22 Ha, nilai produksi padi Rp 823.350, jagung Rp 376.450 dan kacang tanah Rp 516.250 permusim tanam. B/C rasio padi 3,091, jagung 2,288 dan kacang tanah 2,809 berarti sistem agroforestry sangat efektif dan menguntungkan. Rerata tinggi dan diameter tanaman pokok dengan agroforestry yaitu 2,397m dan diameter 5,811cm dan untuk tanaman pokok non agroforestry yaitu 1,6712m dan diameter 2,1201cm. Model pengembangan agroforestry yang dilakukan oleh masyarakat secara tumpangsari dapat meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan di sekitar kawasan hutan dengan B/C rasio padi 3,091, jagung 2,288, kacang tanah 2,809. Model pengembangan agroforestry berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman pokok, ini terlihat dari perbedaan rerata tinggi 2,397 m dan diameter 5,811 cm, rerata tinggi untuk tanaman jati non agroforestry yaitu 1,6712 m dan untuk diameter 2,1201 cm. Serta dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar hutan dalam menjaga kesuburan hutan. Disarankan bagi perhutani tidak menghentikan program agroforestry demi kesejahteraan hidup masyarakat di sekitar kawasan hutan, perlunya bimbingan dan pengawasan kepada masyarakat agar program pengembangan agroforestry lebih terarah dalam menjaga dan memanfaatkan hutan secara lestari.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: S Agriculture > SD Forestry
Divisions: Faculty of Agriculture & Animal Husbandry > Department of Forestry
Depositing User: Zainul Afandi
Date Deposited: 21 Jul 2012 03:39
Last Modified: 21 Jul 2012 03:39
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/12585

Actions (login required)

View Item View Item