Nilai-nilai Budaya Bakumpai dalam Kumpulan Cerita Rakyat Barito Kuala

Salmawati, Salmawati (2006) Nilai-nilai Budaya Bakumpai dalam Kumpulan Cerita Rakyat Barito Kuala. Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
Nilai-nilai.pdf

Download (76kB) | Preview

Abstract

Dalam upaya untuk pembinaan, pengembangan dan pelestarian agar pola berpikir luhur tidak terkikis habis dan pudar yang sesuai masyarakat Indonesia dan juga sebagai warisan nenek moyang. Diharapkan pula bahwa dari hasil budaya bangsa yang dilestarikan seperti nilai-nilai budaya Bakumpai, akan mendukung bangsa Indonesia untuk lebih mengerti dan memahami nilai-nilai budaya Bakumpai dalam kumpulan cerita rakyat Barito Kuala yang beraneka ragam isi cerita. Serta mewujudkan kebudayaan yang diidamkan bangsa Indonesia. Cerita rakyat sebagai bagian dari kesenian rakyat perlu digali dan dipelihara dalam rangka membantu usaha membina kebudayaan nasional pada umumnya. Nilai budaya Bakumpai salah satunya cerita rakyat Barito Kuala karena cerita rakyat bagian dari kebudayaan yang tersebar dan diwariskan turun-temurun sehingga cerita rakyat dirasakan sebagai milik bersama. Tujuan penelitian ini secara umum adalah memperoleh gambaran tentang nilai-nilai budaya dalam cerita rakyat Barito Kuala tujuan penelitian diperinci menjadi empat: (1) mendeskripsikan nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat Tuhan (hubungan manusia dengan Tuhan) cerita rakyat Barito Kuala, (2) mendeskripsikan nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat manusia sebagai mahluk sosial (hubungan manusia dengan sesamanya) cerita rakyat Barito Kuala, (3) mendeskripsikan nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat manusia sebagai mahluk individu (hubungan manusia dengan diri sendiri) dalam cerita rakyat Barito Kuala, (4) mendeskripsikan nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat alam (hubungan manusia dengan alam) dalam cerita rakyat Barito Kuala. Pendekatan yang digunakan cultural adalah praktik pemaknaan, yang dibangun melalui tanda, khususnya tanda-tanda bahasa. Sedangkan metodenya adalah metodenya penelitian kualitatif merupakan memandang kejadian sebagai gejala-gejala yang wajar, generalisasi dan motivasi sebelumnya yang diperkirakan berasal dari berbagai sumber. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku kumpulan cerita rakyat Barito Kuala. Terbitan dinas lingkungan hidup, kebersihan parawisata dan budaya kabupaten Barito Kuala tahun 2005 yang berisi 19 cerita yaitu: (1) Asal usul lebo (banua) Bakumpai, (2) asal mula sungai Barito, (3) asal mula pulau kaget, (4) asal mula pulau kembang, (5) asal mula palukan, (6) asal mula desa pati muhur, (7) bataur di buang ke Surabaya, (8) datu gulu bertapa di jabal kubis, (9) janar emas, (10) jingah terbang, (11) kisah benua gusang, (12) kuriding, (13) hantu wanyi, (14) papar pujung, (15) sicupak dan si gatang, (16) tanjung perak, (17) terangkapnya di mulut kera, (18) kisah asal mula marabahan, (19) kisah burung ranggap tutup. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa nilai budaya yang terdapat dalam cerita rakyat Barito Kuala meliputi empat golongan yaitu; nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat Tuhan (hubungan manusia dengan Tuhan), nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat manusia sebagai mahluk sosial (hubungan manusia dengan sesamanya), nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat manusia sebagai mahluk individu (hubungan manusia dengan diri sendiri), nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat alam (hubungan manusia dengan alam). Pertama, nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat Tuhan (hubungan manusia dengan Tuhan) digambarkan secara langsung dengan kepercayaan kepada Tuhan dinyatakan kata-kata Tuhan, tetapi juga digambarkan melalui tokoh- tokoh gaib yang dianggap mempunyai kekuatan supernatural (ketuhanan) seperti jin, manusia misterius, hewan. Pengabdian yang dinyatakan dengan berdoa, pengabdian yang dinyatakan sembahyang, pengabdian yang dinyatakan dengan bertakaruf, pengabdian yang dinyatakan dengan gemar menuntut ilmu agama, pengabdian dinyatakan dengan memohon. Kepasrahaan yang dinyatakan dengan putus asa, kepasrahaan yang dinyatakan dengan merelakan, kepasrahaan yang dinyatakan dengan harapan, kepasrahan yang dinyatakan dengan kesanggupan. Kedua, nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat manusia sebagai mahluk sosial (hubungan manusia dengan sesamanya) digambarkan melalui perbuatan gotong-royong antar teman, gotong-royong antar warga. Musyawarah antar masyarakat, musyawarah antar keluarga, musyarawah antar teman, musyawarah antar hewan. Adil antara keluarga, adil antara warga (masyarakat dan rakyat). Ketiga, nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat manusia (hubungan manusia dengan diri sendiri) digambarkan perbuatan berani mati demi warga desa (penduduk), berani mati demi hewan, berani mati demi orang tua, orang yang pemberani. Sedangkan kejujuran tidak ada datanya karena di dalam isi cerita rakyat Barito Kuala tidak ada. Keempat, nilai budaya yang berkenaan dengan hakikat alam (hubungan manusia dengan alam) digambarkan dengan perbuatan rasa kagum terhadap alam dan kehidupan seni yang dinyatakan dengan Tuhan, rasa kagum terhadap alam dan kehidupan seni hewan, rasa kagum terhadap alam dan kehidupan seni yang dinyatakan dengan orang, dan juga digambarkan dengan rasa kagum terhadap alam dan seni yang dinyatakan dengan masyarakat (warga desa). Sikap hormat pada alam dinyatakan dengan Tuhan, sikap hormat pada alam dinyatakan dengan hewan, sikap hormat pada alam dinyatakan dengan orang, sikap hormat pada alam dinyatakan dengan jin, sedangkan rasa tanggung jawab terhadap alam tidak ada datanya karena di dalam isi cerita rakyat Barito Kuala tidak ada.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Faculty of Teacher Training and Education > Department of Indonesian and Literature
Depositing User: Zainul Afandi
Date Deposited: 19 Jul 2012 03:46
Last Modified: 19 Jul 2012 03:46
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/12510

Actions (login required)

View Item View Item