STUDI INDUKSI KALUS AGLAONEMA DONNA CARMEN SECARA IN VITRO PADA MEDIA MS DAN VW DENGAN PENAMBAHAN IBA DAN BAP

Khusvanindyah, Nizma (2006) STUDI INDUKSI KALUS AGLAONEMA DONNA CARMEN SECARA IN VITRO PADA MEDIA MS DAN VW DENGAN PENAMBAHAN IBA DAN BAP. Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
STUDI_INDUKSI_KALUS_AGLAONEMA_DONNA_CARMEN.pdf

Download (86kB) | Preview

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komposisi media dan kombinasi IBA dan BAP terhadap induksi kalus tanaman Aglaonema secara kultur in vitro Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2006. Tempat penelitian di laboratorium Mitra Anggrek Indonesia, jalan Hasanuddin I No.24 Junrejo-Batu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yaitu dengan menggunakan 2 faktor yaitu: Faktor 1 macam media yaitu: MI = Media dasar MS. M2 = Media dasar VW . Faktor 2 kombinasi antara IBA dan BAP yaitu: N1 = 10 µM IBA + 0 µM BAP, N2 = 7,5 µM IBA + 2,5 µM BAP, N3 = 5 µM IBA + 5 µM BAP, N4 = 2,5 µM IBA + 7,5 µM BAP, N5 = 0 µM IBA + 10 µM BAP. Dengan demikian diperoleh 10 kombinasi perlakuan yang masing-masing kombinasi perlakuan diulang 2 kali. Setiap ulangan terdiri dari 3 sampel dan masing-masing sampel terdiri dari satu eksplan, sehingga didapatkan 60 satuan percobaan. Dari data hasil pengamatan persentase eksplan hidup menunjukkan bahwa pada media MS dengan kombinasi perlakuan IBA 0 µM dan BAP 10 µM (M1N5) adalah rerata persentase hidup paling tinggi yaitu: 66,6%. Sedangkan pada media VW rerata persentase hidup tertinggi pada kombinasi perlakuan IBA 7.5 µM dan BAP 2.5 µM (M2N2) yaitu 66,6% Eksplan kontaminasi tertinggi pada media MS terdapat pada kombinasi perlakuan IBA 10 µM dan BAP 0 µM (M1N1), IBA 2,5 µM dan BAP 7,5µM (M1N4) yaitu: 66,6%. Sedangkan pada media VW eksplan terkontaminasi tertinggi terdapat pada kombinasi perlakuan IBA 7,5 µM dan BAP 2,5 µM (M2N2), IBA 5 µM dan BAP 5 µM (M2N3), IBA 0 µM dan BAP 10 µM (M2N5) yaitu: 33,3 %. Persentase kontaminasi media MS lebih tinggi dibandingkan dengan media VW. Hal ini menunjukkan bahwa semakin diperkaya suatu media maka tingkat kontaminasinya semakin besar, dan demikian sebaliknya semakin sederhana komponen media maka akan semakin rendah kemungkinan terjadinya kontaminasi. (Santoso dan Nursandi, 2001) Browning adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Persentase eksplan browning berhubungan dengan persentase eksplan mati. Eksplan dapat dikatakan mati jika eksplan tersebut mengalami kontaminasi dan browning dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu eksplan mati berkaitan erat dengan eksplan kontaminasi dan eksplan browning. Pada tulang daun kontrol bentuk tulang bdaunnya masih dalam keadaan membulat, tetapi setelah ditanam pada media pendahuluan, tulang daunnya bentuknya mulai tidak beraturan karena diasumsikan telah terjadi pembelahan sel sehingga bentuk tulang daunnya tidak lagi membulat tetapi membuka. Sedangkan pada bentuk tulang daun perlakuan mengalami pelurusan atau tidak lagi membulat. Hal ini dikarenakan adanya pembesaran dan pemanjangan se.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: S Agriculture > SB Plant culture
Divisions: Faculty of Agriculture & Animal Husbandry > Department of Agronomy
Depositing User: Rayi Tegar Pamungkas
Date Deposited: 18 Jul 2012 03:08
Last Modified: 18 Jul 2012 03:08
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/12320

Actions (login required)

View Item View Item