ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA PT. TLOGO MAS ABADI JAYA ENGINEERING PLASTIK INDUSTRI MALANG

Hidayati, Khurin (2006) ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA PT. TLOGO MAS ABADI JAYA ENGINEERING PLASTIK INDUSTRI MALANG. Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
ANALISIS_BREAK_EVEN_POINTSEBAGAI_ALAT_PERENCANAAN_LABAPADA_PT.pdf

Download (84kB) | Preview

Abstract

Penelitian ini merupakan studi kasus pada perusahaan plastik dengan judul “Analisis Break Even Point Sebagai Alat Perencanaan Laba Pada PT. Tlogo Mas Abadi Jaya Engineering Plastik Industri Malang.” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pada tingkat berapa unit atau rupiah perusahaan mengalami titik impas serta bagaimana merencanakan laba dengan menggunakan analisis break event point. Dalam penelitian ini penulis membatasi permasalahan hanya pada tiga macam produk dari tujuh produk yang diproduksi yang merupakan produk dengan penjualan paling tinggi serta perencanaan laba jangka pendek berdasarkan data tahun 2005. Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis deskriptif, dengan cara memberikan gambaran atau penjelasan tentang titik impas (break even point) dengan menggunakan pendekatan konvensional. Adapun tahap-tahap dalam analisis deskriptif ini meliputi : Mengklasifikasikan antara biaya tetap, biaya variabel dan biaya semi variabel. Memisahkan biaya semi variabel ke dalam kelompok biaya tetap atau variabel dengan menggunakan metode kuadrat terkecil (least square methode). Menghitung titik impas (BEP) dalam Unit dan Rupiah. Merencanakan Laba dengan menggunakan Margin of Safety. Menghitung laporan laba rugi untuk masing-masing produk dan Menganalisis laporan laba rugi dengan metode Degree of Operating Leverage. Hasil perhitungan yang diperoleh titik impas pada jenis produk Saklar sebesar Rp 1,439,532,112 atau 110.733 unit, Tissue Holder sebesar Rp 481,253,055 atau 64.167 Unit dan Stop Kontak sebesar Rp 829,564,279 atau 66.385 Unit. Besarnya Margin Of Safety adalah 29 % yang berarti bahwa kebijaksanaan penurunan penjualan tidak boleh turun dari 29 % dari penjualan yang direncanakan agar perusahaan tidak menderita kerugian. Dari hasil perhitungan diatas diperoleh nilai DOL untuk penjualan yang direncanakan sebesar 10 % sebesar 4.53, sedangkan untuk penurunan penjualan sebesar 30 % berdasarkan margin of safety dieroleh nilai Dol sebesar 4.38. Oleh karena dalam dua prosentase perubahan penjualan diatas nilai DOL lebih besar dari 1 maka berarti dalam hal ini terdapat operating leverage, dimana peningkatan penjualan sebesar 10 % menyebabkan kenaikan EBIT sebesar 45 % dan penurunan penjualan sebesar 30 % menyebabkan EBIT menurun sebesar 131 %. Berdasarkan kesimpulan di atas penulis dapat mengimplikasikan perusahaan sebaiknya melakukan analisis titik impas yang dapat memberikan informasi biaya produk yang akurat, sehingga dapat membantu pihak manajemen dalam menentukan besarnya penjualan untuk mencapai laba yang diinginkan. Selain itu akan dapat membantu perusahaan dalam menghadapi persaingan yang semakin tajam dan semakin mengglobal.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: H Social Sciences > HB Economic Theory
Divisions: Faculty of Economic > Department of Accounting
Depositing User: Rayi Tegar Pamungkas
Date Deposited: 11 Jul 2012 02:37
Last Modified: 11 Jul 2012 02:37
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/11819

Actions (login required)

View Item View Item