Tinjauan Yuridis Sosiologis Terhadap tindak Pidana Pornoaksi Dalam KUHP (Studi di Kota Malang)

WIDAYATI, WIDAYATI (2006) Tinjauan Yuridis Sosiologis Terhadap tindak Pidana Pornoaksi Dalam KUHP (Studi di Kota Malang). Other thesis, University of Muhammadiyah Malang.

[img]
Preview
Text
Tinjauan_Yuridis_Sosiologis_Terhadap_tindak_Pidana_Pornoaksi.pdf

Download (88kB) | Preview

Abstract

Obyek studi dalam penelitian ini adalah mengenai tinjauan yuridis sosiologis terhadap tindak pidana pornoaksi dalam KUHP di Malang. Dimana pada era kehidupan modern ini, ditengah globalisasi informasi seperti sekarang ini kelestarian tatanan masyarakat Indonesia menghadapi ancaman yang serius. Selama ini seks diangggap sebagai sesuatu yang tidak sacral, tidak seperti dulu lagi, yang menyebabkan ialah sejak alat kontrasepsi dimasyarakatkan, seks tidak selalu identik dengan tujuan prokreasi (menghasilkan keturunan) yang merupakan anugrah tuhan. Bahkan seks lebih untuk tujuan rekreasi (kesenangan). Kebanyakan pengetahuan seksual masyarakat sangat rendah, karena banyak menerima dari sumber yang tidak benar. Bertahun-tahun negeri ini diserang wabah pornoaksi, dan bagaikan bom waktu pornoaksi kini telah menunjukkan aktifitasnya didepan mata, dan pemerintah seakan baru tersadar bahwa pornografi dan pornoaksi sangat berbahaya. Dimana selama ini pornoaksi banyak sekali dilakukan oleh para penyanyi dangdut pada saat diatas panggungnya, tidak hanya para penyanyi dangdut yang ada di kota-kota besar saja melainkan didaerah-daerah juga marak melakukan tindak pidana pornoaksi. Misalnya saja kota Malang, seperti diketahui bahwa kota Malang sebagai salah satu kota yang memiliki lembaga pendidikan yang cukup banyak, kota Malang dikenal juga sebagai Tri Cita Bina Kota., yakni sebagai kota pendidikan, kota industri dan kota pariwisata. Boleh dibilang bahwa sebagai kota pariwisata tentunya banyak menunjang para investor lokal yang akan menanamkan investasinya. Sehingga sangatlah wajar jika dikota Malang tumbuh pesat sector pariwisata, diantaranya adalah hotel, club-club malam, kafe-cafe dan obyek wisata lainya. Oleh sebab itu , tindak pidana pornoaksi yang dilakukan oleh para penyanyi dangdut ini bukan hanya menjadi suatu kajian budaya, namun juga kajian yuridis sosialogis. Mengapa demikian? Sebab tindak pidana yang dilakukan oleh para penyanyi dangdut ini sedikit banyak mengundang respon seksual yang mengakibatkan munculnya tindakan kriminal, dan juga akibat yang ditimbukan dirasakan oleh segenap masyarakat. Pornoaksi adalah perbuatan mengeploitasi seksual, kecabulan dan atau erotica dimuka umum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh kepastian pelaku tindak pidana pornoaksi itu bisa atau tidak dijerat dengan KUHP, dan untuk mengetahui upaya apa sajakah yang dilakukan pihak kepolisian agar tindak pidana pornoaksi itu tidak semakin meluas.Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yakni analisis hasil penelitian lapangan yang berupa data diyakini belum dapat memberikan pemecahan terhadap permasalahan yang dibahas, untuk itu data tersebut perlu diolah, pengolahanya didasarkan pada hasil penelitian lapangan yang dipadukan dengan yang didapat dari penelitian kepustakaan yang tujuanya adalah pendapatkan jawaban permasalahan yang telah dikemukakan. Adapun hasil penelitian di ketahui bahwa pelaku tindak pidana pornoaksi yang dilakukan oleh para penyanyi dangdut dan penari latar itu bisa dijerat dengan KUHP, aspek hukum yang dilanggar adalah pasal 281 KUHP yaitu kejahatan yang merusak kesusilaan ( Schennis der eerbaaheid) dan juga pasal 532 ayat 1 yaitu menyanyikan lagu-lagu yang melanggar perasaan kesopanan. Selanjutnya tindakan pihak kepolisian terhadap pengaduan atau dugaan adanya praktek tindak pidana pornoaksi yang dilakukan oleh para penyanyi dangdut di cafe-cafe atau rumah perorangan sangatlah hati-hati, mengingat tindakan yang diambil harus ada paying hukum atau pasal-pasal yang dijeratkan pada tindakan pelaku. Oleh sebab itu, berkaitan dengan hal yang berkaitan dengan hal tersebut diketahui bahwa tindakan hukum yang dilakukan oleh pihak kepolisian selama ini adalah Mengadakan Patroli Rutin dan juga melakukan Sosialisasi dalam rangka pencegahan. Melakukan pendekatan persuasive terhadap pihak pengelola cafe atau rumah-rumah perorangan, jika ada pengaduan atau ditengarai adanya praktek tindak pidana pornoaksi yang dilakukan oleh para penyanyi dangdut. Maka dapat disimpulkan, bahwa pelaku tindak pidan pornoaksi yang dilakukan oleh para penyanyi dangdut dapat dijerat pasal 281 KUHP, dan pasal 532 ayat 1. Dan sebagai upaya yang dilakukan oleh pihak kepolisian selama ini adalah melakukan patroli rutin dan mengadakan sosialisasi sebagai usaha pencegahan.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: K Law > K Law (General)
Divisions: Faculty of Law > Department of Law
Depositing User: Zainul Afandi
Date Deposited: 10 Jul 2012 04:41
Last Modified: 10 Jul 2012 04:41
URI: http://eprints.umm.ac.id/id/eprint/11682

Actions (login required)

View Item View Item